perbedaan akhlak dan tasawuf

Tokohtasawuf pada fase ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) atau yang lebih dikenal dengan al-Ghzali. d. Fase Abad VI Hijriyah sampai ke IX Hijriah dan sesudahnya. Fase ini ditandai dengan munculnya tasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa ( dzauq ) dan rasio ( akal ), tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat
Menurutnya tasawuf menjadi pilihan masyarakat urban karena dinilai sebagai jalan keluar atas paradigma yang berkembang saling bertabrakan. Tasawuf menjadi jalan tengah yang berimbang yang digemari oleh masyarakat urban karena dinilai mampu menampilkan sisi paling mulia dalam Islam, yakni iman dan akhlak. Sejumlah santri mengikuti kajian kitab
MAKALAH AKHLAK, MORAL, ETIKA, DAN KESUSILAAN Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak dan Tasawuf Pengampu Komarudin, Di susun oleh Romi Alfariz 1501046036 Muhammad Naufal Afif 1501046069 PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2016 BAB I PENDAHULUAN Pemahaman yang salah, dapat membuat orang satu dengan orang yang lain menjadikan suatu masalah kecil menjadi masalah yang besar. Kita pasti sudah mengetahui dalam kehidupan sehari-hari. Pada makalah ini, kami berusaha menguraikan masalah serupa yaitu antara akhlak, etika, moral dan susila yang hingga saat ini masih ada kesan seolah-olah istilah akhlak sama dengan etika, moral dan susila. Selain itu dalam makalah ini perlu juga dilihat secara jelas hubungan antara keempat istilah tersebut. 2. Rumusan Masalah Apa pengertian dari akhlak, etika, moral dan susila ? Apa persamaan dan perbedaan dari akhlak, etika, moral dan susila ? Apa hubungan antara ke empatnya ? BAB II PEMBAHASAN a. Akhlak Secara bahasa, kata akhlak berasal dari bahasa arab jama’ dari bentuk mufrodnya khulqun yang menurut logat diartikan budi pekerti. Sedangkan secara istilah akhlak adalah kehendak dan tindakan yang sudah menyatu dengan pribadi seseorang dalam kehidupannya sehingga sulit untuk dipisahkan. Karena kehendak dan tindakan itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan, maka seseorang dapat mewujudkan kehendak dan tindakannya itu dengan mudah, tidak memerlukan banyak pertimbangan dan pemikiran. Oleh karena itu, tidak salah apabila akhlak sering diterjemahkan dengan kepribadian lantaran kehendak dan tindakannya itu sudah menjadi bagian dari kepribadiannya. Sebagai salah satu contoh seseorang tidak bisa dikatakan sebagai berakhlak dermawan, apabila dalam menyerahkan hartanya hanya dimotivasi oleh kebutuhan yang mendadak bukan oleh keadaan yang sudah menancap dan melekat di dalam jiwanya. Demikian juga orang yang dalam melakukan perbuatan dengan terpaksa maka perbuatannya itu tidak bisa dikatakan sebagai akhlak. b. Etika Secara Bahasa, dalam kamus umum Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak moral. Dari kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku. Sedangkan secara istilah, etika adalah suatu ilmu yang membahas perbuatan manusia yang bersumber dari pikiran atau filsafat sebagai penilai, penentu dan penetap yaitu apakah perbuatan tersebut dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya yang bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai tuntunan zaman. Dengan demikian, etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan yang baik atau buruk dapat dikelompokan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berpikir. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan anthropocentris, yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Sebagai Contoh ketika masuk kerumah orang lain, harus mengetuk pintu rumah dan memberikan salam. c. Moral Dari segi bahasa, moral berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, moral adalah penentuan baik-buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Menurut istilah, moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Sebagai contoh dari moral adalah kalau kita menemukan tas yang berisikan dokumen penting dan juga sejumlah uang yang terdapat dalam tas tersebut. Seandainya kita memiliki moral yang baik maka kita akan memberikan tas itu kepada pemiliknya atau kalau tidak pada yang berwajib. d. Susila Susila atau kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Kata tersebut berasal dari bahasa sansekerta , yaitu su dan sila. Su berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Kata susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang asusila adalah orang yang berlakuan buruk, contohnya para pelaku zina pelacur sering diberi gelar sebagai tuna asusila. Selanjutnya kata susila dapat berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan kesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkaan keadaan dimana orang selalu menerapkaan nilai-nilai yang di pandang baik. Setelah mengetahui beberapa Pengertian antara Akhlak, Etika, Moral dan Susila dapat kita tarik persamaan dan perbedaan yaitu Persamaan Perbedaan Akhlak Akhlak sebagai objek yang dikaji Sumber dari Al Qur’an & Hadits Etika Menentukan hukum/ nilai perbuatan manusia dengan keputusan baik atau buruk. Mengkaji Tentang Akhlak Prinsip atau aturan hidup manusia Akal pikiran sebagai pertimbangan Bersifat teoritis Umum Menyatakan Ukuran Moral Bersifat praktis Adat kebiasaan umum masyarakat sebagai pertimbangan Menjelaskan Ukuran Alat penjaga dharma ajaran agama Susila 2. Hubungan Antara Akhlak, Etika, Moral dan Susila Dilihat dari fungsi perannya, dapat dikatakan bahwa akhlak , etika, moral, dan susila sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai dan tentram sehingga sejahtera batiniah dan lahiriyah. Perbedaan antara etika, moral dan susila dengan akhlak adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum dimasyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu aadalah Al Quran dan Al Hadits. Perbedaan lain antara etika, moral dan susila terlihat pada sifat dan kawasan pembahasannya, Jika etika lebih banyak pada sifat dan kawasan pembahasanya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila bersifat lokal atau idividual. Etika menjelaskan baik buruknya, sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan. Namun demikian etika, moral, susila dan akhlak tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Uraian tersebut diatas menunjukan dengan jelas bahwa etika, moral dan susila berasal dari produk rasi dan budaya masyarakat yang scara selektif diakui sebagai yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain jika etika, moral dan susila berasal dari manusia, sedangkan akhlak berasal dari Tuhan. BAB III PENUTUP Berdasarkan uraian makalah di atas kita dapat sampai pada kesimpulan bahwa antara akhlak islam yang bersumber pada wahyu dapat menerima atau mengakui peranan yang dimainkan oleh etika, moral dan susila, yaitu sebagai sarana atau partner untuk menjabarkan akhlak islam yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits, sepanjang etika, moral dan susila itu sejalan dengan Al Qur’an dan Hadits tersebut. Demikian makalah yang dapat kami susun, apabila masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan maupun penyampaian saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Nata, Dr. H. RAJAGRAFINDO PERSADA Nasiruddin, Media Group Drs. Zahruddin AR, M, Studi Raja Grafindo Persada
\n perbedaan akhlak dan tasawuf
2 Menurut Al-Junaidi : " (tasawuf) ialah kesadaran bahwa yang hak (Allah) adalah yang mematikanmu dan yang menghidupkanmu". 3) Menurut Muhammad Ali Al-Qassab : "tasawuf adalah akhlak mulia yang timbul pada waktu mulia dari seoramng yang mulia di tengah-tengah kaumnyayang mulia pula".[2] 4) Ibnu khaldun " tasawuf semacam ilmu syari
SEORANG PENGGUNA TELAH BERTANYA 👇 Apa perbedaan tasawuf dan akhlak INI JAWABAN TERBAIK 👇 Menjawab Tasawuf adalah ilmu tentang bagaimana kita membersihkan hati agar selalu mengingat Allah dan tidak tergoda oleh dunia. Sedangkan akhlak itu sendiri merupakan cerminan dari penerapan tasawuf agar perilaku dan perbuatan kita sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Was this helpful? 0 / 0 Postingan TerkaitApa perbedaan antara filsafat islam, ilmu kalam, dan ilmu…Apa perbedaan akhlak dan ilmu akhlak​Apa perbedaan antara ilmu syariat dan ilmu hakikatApa perbedaan etika dan moral ,akhlak ,karakter dan nilai​Jelaskan hubungan antara aqidah, ibadah, akhlak1. Jelaskan pengertian Nabi dan Rasul ? 2. Jelaskan…
Perbedaandari akhlak dan tasawuf adalah pada pengertiannya itu sendiri. Akhlak dan tasawuf adalah dua hal yang berbeda dan tidak sama. Tasawuf adalah sebuah ilmu yang mengajarkan tentang bagaimana manusia harus membersihkan hati dan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Para sufi haruslah menghindari hal-hal yang berbau kesenangan duniawi dan
Tasawuf berkembang menjadi cabang ilmu keislaman tersendiri yang menekankan tujuan penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah. Walau seluruh ibadah dalam Islam telah diatur dan diorientasikan untuk tujuan di atas, para sufi atau pengamal tasawuf tidak hanya menjalankan ibadah secara formal sesuai ketentuan syariat, tetapi juga berusaha menangkap rahasia syariat yang membawa mereka lebih dekat lagi kepada Sang Pencipta. Lihat Muhammad bin Musthafa, Bariqatul Mahmudiyyah fi Syarhi Thariqah Muhammadiyyah, Jilid 3, halaman 154. Sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri, tasawuf kemudian berkembang menjadi tasawuf menjadi tasawuf positif yakni tasawuf yang sejalan dengan akidah serta syariat Islam dan tasawuf negatif yakni tasawuf yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Di sisi lain, tasawuf juga berkembang menjadi tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Sebagai tasawuf positif, tasawuf amali adalah tasawuf yang menekankan pendekatan dan kaidah ilmiah dimana akidah sebagai fondasinya, syariat sebagai tiangnya, dan tasawuf sebagai energi yang membawa umat menjadi lebih baik, hidup bersih lahir-batin, dekat dengan Allah dan juga sesama makhluk, senantiasa berorientasi pada kehidupan akhirat. Lihat Dr. Abdul Ghani, Tasawuf Amali bagi Pencari Tuhan, [Bandung Alfabeta], 2019, halaman 42. Tasawuf amali bertitik tolak dari ilmu yang diyakini harus diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaidah yang dibangun di dalamnya adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Jadi, tidak benar anggapan yang mengatakan bahwa tasawuf mengabaikan ilmu dan mengedepankan pengamalan yang diajarkan guru. Dengan kata lain, tasawuf ini tidak mengabaikan ilmu, tidak berhenti pada ilmu dan iman, tetapi ditingkatkan pada tataran amal dan amaliah yang saleh, sebagaimana perintah Al-Quran. وَالْعَصْرِ ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ Artinya, "Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh," QS. al-Ashr [103] 1-3. Dalam salah satu tulisannya, al-Ghazali pernah menyatakan, “Para pengamal tasawuf amali bukanlah pemikir yang hanya berwacana, tetapi kelompok umat yang peduli atas kualitas jiwa dan terus beramal.” Dan pemikirannya itu sudah dibuktikannya sendiri. Dengan demikian, tasawuf amali adalah tasawuf yang berorientasi pada penerapan dan pengamalan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung tasawuf ini bergerak di atas dua terapan, yakni tataran konseptual teoritis sebagai landasan filosofis dan tataran praktis sebagai dimensi terapan dari ilmu tasawuf. Ketika beramal dan bermuamalah, para pemegang tasawuf amali senantiasa memperhatikan tuntunan syariat, yakni Al-Quran, sunnah, tadisi generasi salaf, dan amaliah para ulama yang berpegang teguh pada nilai-nilai dan tuntunan Islam. Maka dari itu, tasawuf amali melahirkan 4 istilah lain, yaitu tasawuf qurani, tasawuf sunni, tasawuf akhlaki, dan tasawuf salafi, yang pada hakikatnya merupakan bagian integral dari tasawuf amali itu sendiri. Lihat Asep Usman Ismail, Tasawuf Menjawab Tantangan Global, 2012 Jakarta Transpustaka, hal. 122-126. Pertama, tasawuf qurani, yaitu tasawuf yang pola amaliah tasawufnya bertumpu pada kegiatan, usaha, dan proses tazkiyatun-nafs, taqarrub ilallah, dan hudhurul-qalbi ma’allah dengan bersumber pada ajaran Al-Quran. Dalam pengamalan tasawuf qurani, setiap konsep dan langkah-langkah amaliahnya dikembalikan kepada ayat-ayat suci Al-Quran, baik secara langsung maupun melalui penafsiran para ulama jumhur. Kedua, tasawuf sunni, yaitu tasawuf yang pola amaliahnya bertumpu pada sunah-sunah Nabi saw. Dalam pengamalannya, perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi saw. senantiasa menjadi acuan. Dengan kata lain, tasawuf sunni merupakan perjuangan bertasawuf dengan menjadikan sunnah Nabi saw. sebagai pusat perhatian dan pola amaliahnya. Keseluruhan sunah dan kebiasaan beliau menjadi sumber inspirasi dan keteladanan, bahkan kepribdiannya yang luhur diyakini sebagai personifikasi yang membumi dari “grand sufi” yang berada pada puncak piramida spiritual. Bagaimana tidak, karena Rasulullah saw. adalah seorang yang menempuh perjalanan spiritual menuju Allah hingga berhasil berhadap-hadapan dengan-Nya dalam jarak yang sangat dekat, berkat dialog dan pendampingan malaikat Jibril. Ketiga, tasawuf akhlaki, yaitu tasawuf yang fokus utamanya membina akhlak mulia. Sebab, esensi tasawuf itu sendiri adalah usaha dan proses tazkiyatun-nafs, yakni membersihkan diri dari dosa besar maupun kecil, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Ketika jiwa sudah bersih dan hati sudah penuh dengan sifat-sifat terpuji, maka akan terpancar akhlak yang terpuji. Keempat, tasawuf salafi, yaitu tasawuf yang pengamalannya berpedoman kepada pemikiran dan metodologi bertasawuf sebagaimana yang dijalankan oleh kaum salaf, yakni tiga generasi pertama dalam Islam para sahabat, para tabi’in, dan tabi’t tabi’in. Dengan demikian, secara singkat tasawuf salafi adalah pengamalan tasawuf yang mengutamakan apa yang ditempuh oleh generasi salaf terdahulu, yang tentunya juga bersumber dari tuntunan syariat. Tasawuf amali kemudian melahirkan anak kandung yang bernama tarekat, yang secara harfiah berarti cara’, jalan’, atau metode’, guna mencapai tujuan bertasawuf. Di sinilah para pemegang tasawuf amali secara inten dan nyata menjalankan amaliah dan mempraktikkan konsep-konsep tasawufnya sesuai dengan bimbingan guru dan ketentuan syariat yang telah diadopsi tarekat, dengan tujuh komponen utamanya, yaitu mursyid, murid, silsilah, baiat, adab, wirid, dan tempat. Dalam tasawuf amali ini, dikenal sejumlah tokoh penting, di antaranya adalah Abdul Qadir al-Jailani, Junaid al-Baghdadi, Hasan al-Bashri, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Dzun Nun al-Mishri. Selain tarekat, sejumlah aspek penting yang dipelajari dalam tasawuf ini adalah syariat, hakikat, dan makrifat. Lihat al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, hal. 87; lihat pula Dr. Abdul Ghani, Tasawuf Amali bagi Pencari Tuhan, [Bandung Alfabeta], 2019, halaman 65-86. Dalam praktiknya, tasawuf amali memiliki sejumlah metode yang harus diikuti oleh para salik, yaitu riyadhah atau latihan untuk membiasakan diri tidak berbuat yang dapat mengotori jiwa serta menjauhi hal-hal yang diinginkan oleh nafsu; tafakur, yaitu proses pembelajaran diri manusia melalui aktivitas berpikir yang menggunakan perangkat batin; tazkiyatun-nafs, yakni proses penyucian jiwa melalui tiga tahapan, takhalli, tahalli, dan tajalli; dzikrullah, yakni upaya mengingat Allah dan menyebut asma-Nya secara berulang-ulang. Lihat al-Hakim at-Tirmidzi, Adabun-Nafs, juz I, halaman 34. Demikian pengenalan singkat tasawuf amali. Sementara tasawuf falsafi, mengingat keterbatasan ruang, maka insya Allah akan disampaikan pada tulisan berikutnya. bersambung.... Wallahu al’lam. Ustadz Tatam Wijaya, alumnus Pondok Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
Dalamajaran akhlak islam dan tasawuf tentu tidak ada yang bertentangan secara substansi. Akhlak islam menginginkan umat islam mendapatkan kemuliaan akhlak berdasarkan agama sedangkan tasawuf pun menuju kepada hal tersebut. Titik tekan akhlak islam berlandaskan 3 hal yang telah disebutkan di atas, sedangkan tasawuf pada kecintaan dan kebersihan
Dalam islam terdapat istilah akhlak dan tasawuf. Akhlak dan Tasawuf memiliki beragam pendapat dan hubungan yang saling melengkapi. Ajaran mengenai tasawuf, sebetulnya bukanlah ajaran yang baku dalam islam dan disepakati oleh berbagai kalangan ulama. Terdapat berbagai pandangan dan pemikiran yang memberikan sumbangsih pada artikel ini sekedar membahas benang merah Akhlak dan Tasawuf secara umum saja namun tidak menggali lebih mendalam mengenai apa tasawuf dan berbagai aliran mengenai hal tersebut. Hal ini agar dapat sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam yang telah ditetapkan oleh Allah, ketika akan TasawufIstilah tasawuf berasal dari kata sufi yang artinya suci. Tasawuf memang berasal dari golongan para sufi yang senantiasa menghubungkan ajaran agama dengan perasaan cinta mendalam dan kesucian hati. Untuk itu, tasawuf diartikan sebagai penyucian hati dan menjaganya agar tidak mendapatkan cedera, kotor, dan selanjutnya dapat menjadikan hati jernih serta harmonis dengan hubungan antara manusia dan Tasawuf sendiri menjelaskan mengenai cara cara mengembangkan ruhani manusia untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dalam derajat tertentu, terdapat istilah Makrifat yang berarti telah bersatu dengan Tuhan. Itulah yang menjadi pencapaian tertinggi atau tujuan tertinggi dari mengedepankan kedisiplinan dalam beribadah, konsentrasi terhadap tujuan hidup menuju kepada Allah, serta membebaskan diri dan keterikatan manusia dengan kehidupan duniawi. Tasawuf mengajarkan untuk tidak mencintai dunia yang fana serta mengharapkan hanya keridhoan Allah semata. Dunia yang fana hanya akan membuat manusia lupa akan cinta pada yang sebenarnya yaitu hakikat cinta hanya kepada Allah SWT. Untuk itu, hal-hal yang duniawi tentu akan dijauhi dan dikurangi oleh orang-orang Ajaran TasawufDasar dari ajaran tasawuf adalah mensucikan diri dari dosa, mencari ridho Allah, dan hidup dalam keadaan zuhud. Mereka menghiasi hati dengan cinta dan menghias diri dengan akhlak yang mulia. Ajaran tasawuf ini disandarkan dari beberapa pandangan, diantaranya Bahwa Perilaku Nabi Muhammad adalah Nilai SufismePerilaku Nabi Muhammad bagi ulam sufisme adalah cerminan dari perilaku tasawuf. Diantaranya adalah berdiam diri di gua hira, hidup zuhud atau sederhana, tidak memiliki kecintaan terhadap harta duniawi, senantiasa melakukan pendekatan diri terhadap Allah baik lewat zikir, doa, dan mengenai tasawuf juga timbul karena pandangan akan sifat Nabi Muhammad seperti bertaubat, sabar, tawakal, dan ridha atas apa yang diberikan Allah. Perilaku tersebut dianggap sesuai dengan ajaran tasawuf dan sesuai dengan tujuan untuk meraih keridhoan Allah dalam Al-Quran Di dalam ayat Al-Quran juga terdapat ayat-ayat yang menjadi dasar bagi ajaran Tasawuf, diantaranya adalah“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya” QS Asy-Syams 9Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah orang yang mensucikan jiwa sebagaimana dari tasawuf. Untuk itu, ayat ini menjadi pendorong bagi muslim untuk senantiasa memelihara hati dan menjaganya agar tidak terkotori oleh hal-hal duniawi atau hal-hal yang merusak ketentraman jiwa. Selain itu disampaikan pula dalam ayat berikut bahwa ayat ini mendorong untuk senantiasa mencintai Allah dan Allah akan mengampuni dosa bagi yang mencintai Allah. Tentu ini pun juga menjadi dasar akan tasawuf bahwa kecintaan pada Allah adalah segala-galanya.“Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Ali Imran 31Pengertian dan Dasar Akhlak IslamAkhlak dalam islam adalah landasan mengenai perhitungan baik atau buruknya sesuatu. Landasan akhlak dalam islam didasarkan pada aspek Ketuhanan dimana benar atau salahnya serta baik atau buruknya akhlak bergantung kepada apa yang disampaikan oleh Allah SWT. Pertimbangan akhlak islam diantaranya berdasar kepadaKepatuhan dan Ketaatan Kepada Allah SWT “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah Al-Qur`an dan Rasul sunnahnya jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” An-Nisa 59Akhlak islam mengarahkan untuk taat kepada Allah SWT dan melarang untuk mengikuti selain dari perintahnya. Untuk itu, akhlak islam didasarkan kepada keaptuhan dan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Baik dan Buruknya adalah sesuai dari perkataan Allah bukan manusia atau ajaran-ajaran yang bukan berasal dari dari Rasulullah SAW “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu iaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al Ahzab 21 Dalam islam sendiri telah dijelaskan bahwa Rasulullah adalah teladan bagi umat islam. Untuk itu, akhlak yang baik akan tercermin dari bagaimana Rasulullah berperilaku dan mencontohkan. Bisa dilihat dari tujuan perilaku atau teknis perilaku yang dicontohkan Keseimbangan atau Sunnatullah di Alam Selain dari apa yang Allah perintahkan dan rasul contohkan ada pula hukum-hukum Allah yang ada di alam dan hanya dapat ditangkap dan dipahami oleh orang-orang yang berakal, Diantaranya adalah ayat berikut yang melarang manusia untuk merusak hukum keseimbangan. Akhlak yang buruk pasti akan merusak, akhlak yang baik akan mengarahkan pada keseimbangan.“Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” QS Ar Rahman 7-9Dalam ajaran akhlak islam dan tasawuf tentu tidak ada yang bertentangan secara substansi. Akhlak islam menginginkan umat islam mendapatkan kemuliaan akhlak berdasarkan agama sedangkan tasawuf pun menuju kepada hal tersebut. Titik tekan akhlak islam berlandaskan 3 hal yang telah disebutkan di atas, sedangkan tasawuf pada kecintaan dan kebersihan jiwa. Penerapannya mungkin tasawuf memiliki hal yang berbeda, namun secara tujuan tidaklah bertentangan. Ajaran Tasawuf dan akhlak sama-sama tidak menginginkan keburukan dan kerusakan yang ini dapat dirangkum dalam hal berikut mengenai Hubungan Akhlak dan Tasawuf Sama-sama berorientasi kepada kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWTSama-sama berorientasi kepada kemuliaan akhlak dan kebersihan jiwaSama-sama mengarahkan kepada terciptanya kebaikan di dunia dan akhiratUntuk memuliakan akhlak sejatinya kita juga bisa kembali melaksanakan sunnah rasul. Tasawuf tentu tidak dilarang secara praktik jika tidak ada hal yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunnah, rukun iman, rukun islam, dan fungsi agama. Hal ini dapat diperkuat misalnya dengan cara melaksanakan Sunnah Sebelum Tidur , Adab Ziarah Kubur , Cara Makan Rasulullah , melaksanakan Cara Mandi Dalam Islam , Zikir Sebelum Tidur , melaksanakan Macam Macam Shalat Sunnah, melaksanakan Proses Pemakaman Jenazah Menurut Islam, dsb.
Dianaraajaran-ajaran Ibnu Masarrah adalah sebagai berikut. 1) Jalan menuju keselamatan adalah menyucikan jiwa,zuhud,dan muhabbah yang merupakan asal dari semua kejadian. 2) Dengan penakwilan ala philun atau aliran Isma'i liyyah terhadap ayat-ayat alquran,ia menolak adanya kebangkitan jasmani.
0% found this document useful 0 votes920 views27 pagesDescriptionmakalah tasawufOriginal Titlemakalah Definisi Akhlak, Tasawuf, Persamaan Dan Perbedaan Serta Hubungan KeduanyaCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes920 views27 pagesMakalah Definisi Akhlak, Tasawuf, Persamaan Dan Perbedaan Serta Hubungan KeduanyaOriginal Titlemakalah Definisi Akhlak, Tasawuf, Persamaan Dan Perbedaan Serta Hubungan KeduanyaJump to Page You are on page 1of 27 You're Reading a Free Preview Pages 7 to 15 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 20 to 25 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
MaknaSuluk dan Tasawuf. Kamis 21 Jul 2011 19:14 WIB. Red: cr01. 0. Ilustrasi. Foto: Blogspot.com. REPUBLIKA.CO.ID, Suluk berarti memperbaiki akhlak, mensucikan amal, dan menjernihkan pengetahuan. Suluk merupakan aktivitas rutin dalam memakmurkan lahir dan batin. Segenap kesibukan hamba hanya ditujukan kepada Sang Rabb.
Perbedaan Akhlak Dan Tasawuf – Perbedaan Akhlak dan Tasawuf dapat dilihat dengan jelas dalam konteks agama Islam. Akhlak adalah moralitas yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada perilaku, sikap, dan etika. Akhlak Islam menekankan kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan integritas. Ini berfokus pada nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Tasawuf adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam. Ini berfokus pada tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Fokus Tasawuf adalah pada kebajikan dan spiritualitas, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. Pada dasarnya, Akhlak menekankan etika dan moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada bersikap baik terhadap orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan. Akhlak Islam menekankan kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak Islam juga menekankan pada perilaku yang santun dan penuh hormat, serta menghargai hak-hak orang lain. Sementara itu, Tasawuf adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam. Ini berfokus pada tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Fokus Tasawuf adalah pada kebajikan dan spiritualitas, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. Tasawuf berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Hal ini mencakup meditasi, ibadah yang tulus, dan kemampuan untuk mengatasi dunia material. Kesimpulannya, Akhlak dan Tasawuf adalah bidang yang berbeda dalam Islam. Akhlak berfokus pada pengamalan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Tasawuf berfokus pada kebajikan dan spiritualitas, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. Pemahaman tentang perbedaan Akhlak dan Tasawuf akan membantu orang memahami tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Penjelasan Lengkap Perbedaan Akhlak Dan Tasawuf1. Akhlak adalah moralitas yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada perilaku, sikap, dan etika. 2. Akhlak Islam menekankan kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan integritas. 3. Tasawuf adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam, yang berfokus pada tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. 4. Fokus Tasawuf adalah pada kebajikan dan spiritualitas, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. 5. Akhlak menekankan etika dan moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada bersikap baik terhadap orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan. 6. Tasawuf berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. 7. Akhlak dan Tasawuf adalah bidang yang berbeda dalam Islam. 8. Pemahaman tentang perbedaan Akhlak dan Tasawuf akan membantu orang memahami tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Penjelasan Lengkap Perbedaan Akhlak Dan Tasawuf 1. Akhlak adalah moralitas yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada perilaku, sikap, dan etika. Akhlak adalah moralitas yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada perilaku, sikap, dan etika. Akhlak membantu kita memahami bagaimana kita harus bersikap dan berperilaku dalam situasi tertentu. Akhlak juga berfokus pada tindakan, bukan pada kepercayaan atau pemikiran. Akhlak berfokus pada konsep kepatutan dan kebaikan. Akhlak mengajarkan kita untuk bersikap adil dan berlaku jujur, untuk berbuat baik dan menolong orang lain, dan untuk menghormati dan menghargai hak asasi manusia. Akhlak juga mengajarkan kita untuk menghormati budaya dan agama yang berbeda dan untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan kita. Sedangkan tasawuf adalah cabang dari agama Islam yang berfokus pada spiritualitas dan pengalaman batin. Tasawuf menekankan pentingnya pengalaman spiritual yang mendalam untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi dan untuk berhubungan dengan Tuhan lebih dekat. Tasawuf berfokus pada pengalaman spiritual yang mendalam, bukan pada tindakan atau perilaku. Tasawuf menekankan pentingnya bermeditasi dan menyembah Tuhan dengan hati yang bersih dan ikhlas, serta menghindari keinginan diri sendiri dan mendorong sifat ketaatan dan kesetiaan. Tasawuf juga menekankan pentingnya mengikuti ajaran agama dan melakukan amal sholeh. Ini termasuk berbuat baik dengan orang lain, berbuat kebajikan, berbuat amal yang bermanfaat, dan melakukan hal-hal yang dapat menghormati dan menghargai hak asasi manusia. Kesimpulannya, akhlak berfokus pada perilaku, sikap, dan etika yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, tasawuf berfokus pada spiritualitas dan pengalaman batin. Kedua-duanya membantu kita memahami bagaimana kita harus bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. 2. Akhlak Islam menekankan kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan integritas. Akhlak Islam merupakan sebuat kebiasaan, sikap, dan tindakan yang harus diamalkan oleh setiap muslim dalam berinteraksi dengan orang lain. Akhlak Islam menekankan kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan integritas. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran dan Hadits. Akhlak Islam mengajarkan bahwa setiap muslim harus menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Kebijaksanaan dalam Akhlak Islam meliputi kemampuan untuk berpikir secara konstruktif dan menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat. Akhlak Islam mengajarkan bahwa setiap muslim harus membuat keputusan yang bijaksana dan menghormati hak orang lain. Akhlak Islam juga mengajarkan bahwa setiap muslim harus berusaha untuk menghindari konflik yang bisa terjadi dan mencari solusi yang terbaik bagi setiap masalah. Kemudian, Akhlak Islam juga menekankan pada kejujuran. Kejujuran dalam Akhlak Islam dimaksudkan untuk memastikan bahwa setiap muslim harus jujur dalam berbicara, bertindak, dan bertindak. Akhlak Islam juga mengajarkan bahwa setiap muslim harus jujur terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Selain itu, Akhlak Islam juga menekankan pada keadilan. Akhlak Islam mengajarkan bahwa setiap muslim harus menjaga kesetaraan hak dan kewajiban yang dimilikinya. Akhlak Islam juga mengajarkan bahwa setiap muslim harus memperlakukan orang lain dengan adil dan menghormati hak-hak mereka. Akhirnya, Akhlak Islam juga menekankan pada integritas. Integritas dalam Akhlak Islam bertujuan untuk memastikan bahwa setiap muslim harus bertindak jujur dan bertanggung jawab atas tindakannya. Akhlak Islam juga mengajarkan bahwa setiap muslim harus menjaga integritas dirinya dan orang lain. Sedangkan, Tasawuf adalah sebuah cabang dari Islam yang berfokus pada kerohanian. Tasawuf juga dikenal sebagai Sufisme. Tasawuf menekankan pada pemahaman yang mendalam dan pencapaian kehidupan spiritual. Tasawuf juga mengajarkan bahwa setiap muslim harus mengikuti suatu jalan yang tepat untuk mencapai kehidupan spiritual yang sejati. Kebanyakan orang menganggap Tasawuf sebagai sebuah kegiatan spiritual yang melibatkan meditasi atau menyembah suatu entitas supranatural. Namun, Tasawuf juga menekankan pada kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan integritas. Akhlak Islam dan Tasawuf memiliki beberapa kesamaan, namun mereka juga memiliki beberapa perbedaan. Akhlak Islam dan Tasawuf berbeda dalam hal tujuannya. Akhlak Islam bertujuan untuk mengajarkan manusia bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain dan membantu mereka untuk hidup sebagai muslim yang baik. Sedangkan, Tasawuf bertujuan untuk mengajarkan manusia bagaimana cara mencapai kehidupan spiritual yang sejati. Selain itu, Akhlak Islam dan Tasawuf juga berbeda dalam hal cara mereka mencapainya. Akhlak Islam menekankan pada upaya untuk memperbaiki sikap dan tindakan melalui pengamalan nilai-nilai dan prinsip-prinsip agama. Sedangkan, Tasawuf menekankan pada upaya untuk mencapai kehidupan spiritual melalui teknik spiritual, seperti meditasi dan iman. Akhirnya, Akhlak Islam dan Tasawuf juga berbeda dalam hal pandangan mereka tentang kehidupan. Akhlak Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia adalah sebuah proses pembelajaran dan mengajarkan bagaimana cara hidup sebagai muslim yang baik. Sedangkan, Tasawuf mengajarkan bahwa kehidupan manusia adalah sebuah proses menuju kehidupan spiritual. Secara keseluruhan, Akhlak Islam dan Tasawuf adalah dua aspek yang berbeda dari Islam. Akhlak Islam menekankan pada kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan integritas, serta mengajarkan cara berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan, Tasawuf menekankan pada pencapaian kehidupan spiritual melalui teknik spiritual. 3. Tasawuf adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam, yang berfokus pada tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Tasawuf adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam yang berfokus pada tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Tasawuf berasal dari kata Arab yang berarti “sufi”, yang secara harfiah berarti “suci”. Ini berfokus pada upaya untuk mencapai pemahaman spiritual yang lebih mendalam tentang ajaran Islam dengan menekankan pada aspek spiritualitas dan kedekatan dengan Tuhan melalui praktik spiritual. Tasawuf menekankan bahwa cara terbaik untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan adalah dengan menekankan pada aspek spiritualitas, yaitu berpikir tentang Tuhan dan mencoba untuk menjadi seperti Dia. Ini dilakukan melalui berbagai cara, seperti melakukan ibadah, meditasi, berdoa, dan berpikir tentang ajaran-ajaran agama. Beberapa praktik spiritual yang populer yang dipelajari dan dilakukan oleh para Sufi adalah dhikr, mahabbah, dan mawlid. Akhlak, sebaliknya, adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam yang berfokus pada bagaimana seseorang bisa mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Akhlak berasal dari kata Arab yang berarti “kebiasaan”. Ini berfokus pada upaya untuk mengembangkan kebiasaan dan perilaku yang baik agar dapat mencapai tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Akhlak berfokus pada bagaimana seseorang bisa mengembangkan perilakunya agar lebih sesuai dengan ajaran Islam. Ini dilakukan melalui berbagai cara, seperti menjaga lisan, menjaga mata, menghormati orang lain, membantu orang lain, dan mengikuti prinsip-prinsip moral dan etika yang ditetapkan dalam Islam. Akhlak juga menekankan bahwa seseorang harus mencari kedekatan dengan Tuhan melalui berbagai cara, seperti meningkatkan ibadah dan menghargai serta menghormati orang lain. Kesimpulannya, tasawuf adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam yang berfokus pada tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan melalui praktik spiritual. Sedangkan akhlak adalah cabang bahasan yang berkembang dalam Islam yang berfokus pada bagaimana seseorang bisa mengubah perilakunya menjadi lebih baik agar dapat mencapai tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. 4. Fokus Tasawuf adalah pada kebajikan dan spiritualitas, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. Tasawuf adalah cabang dari Islam yang berfokus pada spiritualitas dan kebajikan. Istilah ini diambil dari bahasa Arab, yang berarti “jalan spiritual”. Hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan jalan yang diikuti oleh orang-orang yang mencari kebahagiaan abadi. Kebajikan dan spiritualitas ini berfokus pada upaya untuk menjadi lebih dekat dengan Allah dan mencapai ketenangan batin. Tasawuf berbeda dari akhlak dalam beberapa cara. Pertama, akhlak lebih menekankan pada ketaatan terhadap hukum dan norma sosial, serta mengajarkan cara menjalankan kehidupan yang jujur dan bermoral. Akhlak juga dapat membantu seseorang dalam mengatur sifat-sifat individual dan menghormati hak-hak orang lain. Akhlak terutama berfokus pada perbuatan manusia yang dianggap benar dan bijaksana. Sedangkan, fokus tasawuf adalah pada kebajikan dan spiritualitas, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. Akhlak memfokuskan pada sifat-sifat yang berkaitan dengan moral, sedangkan tasawuf berfokus pada sifat-sifat yang lebih tinggi, seperti cinta, belas kasih, toleransi dan keikhlasan. Orang yang mempraktikkan tasawuf umumnya berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk merasakan dan menyadari kehadiran Allah, dan menjadi lebih bersifat spiritual. Kedua, tasawuf menekankan pada pengembangan spiritualitas manusia. Hal ini bertujuan untuk mengubah seseorang menjadi lebih baik dan bermoral. Hal ini juga berfokus pada usaha untuk mencapai kedekatan dengan Allah, yang akan membantu seseorang untuk mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan abadi. Akhlak, pada gilirannya, menekankan pada ketaatan terhadap hukum dan norma sosial. Ketiga, tasawuf menekankan pada pemahaman akan pengalaman spiritual dan hubungan dengan Allah. Hal ini bertujuan untuk membantu seseorang dalam meningkatkan kemampuannya untuk merasakan dan menyadari kehadiran Tuhan. Akhlak, pada gilirannya, berfokus pada pengalaman moral dan sikap yang berkaitan dengan moral. Keempat, tasawuf menekankan pada praktik spiritual dan kehidupan bermoral. Hal ini bertujuan untuk membantu seseorang dalam meningkatkan kesadaran spiritual dan kedekatan dengan Allah. Akhlak, pada gilirannya, menekankan pada sifat-sifat yang berkaitan dengan moral. Dalam kesimpulannya, tasawuf dan akhlak memiliki beberapa perbedaan. Tasawuf berfokus pada spiritualitas dan kebajikan, yang membantu orang mencapai kebahagiaan abadi. Akhlak, pada gilirannya, berfokus pada ketaatan terhadap hukum dan norma sosial. Akhlak juga berfokus pada perbuatan manusia yang dianggap benar dan bijaksana. Kedua, tasawuf menekankan pada pengembangan spiritualitas manusia, sedangkan akhlak menekankan pada sifat-sifat yang berkaitan dengan moral. Ketiga, tasawuf menekankan pada pemahaman akan pengalaman spiritual dan hubungan dengan Allah, sedangkan akhlak berfokus pada pengalaman moral dan sikap yang berkaitan dengan moral. Keempat, tasawuf menekankan pada praktik spiritual dan kehidupan bermoral, sedangkan akhlak menekankan pada sifat-sifat yang berkaitan dengan moral. 5. Akhlak menekankan etika dan moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada bersikap baik terhadap orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan. Akhlak adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang berarti “kebiasaan”. Akhlak adalah sikap dan tingkah laku manusia yang mencerminkan kualitas moral dan etika. Akhlak menekankan etika dan moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada bersikap baik terhadap orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan. Akhlak juga mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kebaikan, kebenaran, toleransi, kasih sayang, dan rasa hormat. Akhlak menekankan pada etika dan moral yang berlaku dalam kehidupan manusia, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan iklim yang kondusif bagi kehidupan yang damai dan harmonis. Sementara itu, tasawuf adalah sebuah cabang dari agama Islam yang memfokuskan pada pemahaman spiritual dan teologis. Tasawuf menekankan pada kesadaran spiritual dan pencarian jalan menuju kemaknaan hidup dan kedamaian. Prinsip tasawuf adalah untuk mencapai kebahagiaan spiritual dengan cara menemukan kesadaran diri dan mengembangkan kualitas spiritual. Ini dicapai dengan menghilangkan sifat egois manusia dan mengembangkan kualitas spiritual melalui ibadah dan meditasi. Tujuan utama dari tasawuf adalah untuk mencapai kesadaran spiritual yang tinggi yang dapat membantu manusia mencapai tujuan hidup mereka. Kesimpulannya, walaupun ada beberapa kesamaan antara akhlak dan tasawuf, namun keduanya berbeda dalam banyak hal. Akhlak berkaitan dengan etika dan moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada bersikap baik terhadap orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan. Sementara itu, tasawuf adalah cabang dari agama Islam yang memfokuskan pada pemahaman spiritual dan teologis, yang bertujuan untuk mencapai kesadaran spiritual yang tinggi. 6. Tasawuf berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Akhlak dan Tasawuf merupakan dua istilah yang umumnya dikaitkan dengan budaya Islam. Kedua konsep ini memiliki beberapa persamaan, namun juga memiliki perbedaan yang signifikan, yang harus dicermati. Perbedaan utama antara Akhlak dan Tasawuf adalah bahwa Akhlak adalah konsep moral dan sosial yang berfokus pada perilaku bermoral dan etika, sedangkan Tasawuf adalah konsep spiritual yang berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Pertama, Akhlak adalah konsep moral dan sosial yang berfokus pada perilaku bermoral dan etika. Ini berarti bahwa orang yang memiliki akhlak yang baik akan selalu berpikir dan bertindak dengan cara yang mencerminkan sikap moral yang baik. Ini juga berarti bahwa orang yang memiliki akhlak yang baik akan memiliki sikap dan tindakan yang baik, yang mencerminkan etika yang baik. Misalnya, orang yang memiliki akhlak yang baik akan selalu bertindak dengan hormat terhadap orang lain dan akan menghormati hak-hak orang lain. Kedua, Tasawuf adalah konsep spiritual yang berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Istilah Tasawuf’ merujuk pada praktik spiritual yang berfokus pada peningkatan kesadaran tentang Tuhan dan hubungan dengan-Nya. Orang yang praktik Tasawuf berusaha untuk memahami dan merasakan kasih sayang Tuhan, yang dapat membantu mereka untuk lebih dekat dengan-Nya. Di dalam Tasawuf, orang juga diajarkan untuk mengendalikan emosinya dan mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Ketiga, Akhlak berfokus pada yang benar dan salah, sedangkan Tasawuf berfokus pada kesadaran spiritual. Akhlak berfokus pada berbagai konsep moral dan etika, yang membantu orang untuk mengidentifikasi dan mengikuti tindakan yang baik dan menghindari tindakan yang buruk. Tasawuf, di sisi lain, berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Keempat, Akhlak berfokus pada sikap dan perilaku manusia, sedangkan Tasawuf berfokus pada hubungan dengan Tuhan. Akhlak berfokus pada sikap dan perilaku manusia, yang mencerminkan etika dan moral yang baik. Di sisi lain, Tasawuf berfokus pada hubungan dengan Tuhan, yang membantu orang untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan dan hubungan dengan-Nya. Kelima, Akhlak berfokus pada tindakan yang salah dan benar, sedangkan Tasawuf berfokus pada kesadaran spiritual. Akhlak berfokus pada tindakan yang salah dan benar, yang membantu orang untuk mengikuti tindakan yang benar dan menghindari tindakan yang salah. Di sisi lain, Tasawuf berfokus pada kesadaran spiritual, yang membantu orang untuk memahami dan merasakan kasih sayang Tuhan, yang dapat membantu mereka untuk lebih dekat dengan-Nya. Keenam, Akhlak berfokus pada perilaku yang mencerminkan moral yang baik, sedangkan Tasawuf berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual. Akhlak berfokus pada perilaku yang mencerminkan moral yang baik, yang membantu orang untuk bertindak dengan hormat terhadap orang lain dan menghormati hak-hak orang lain. Di sisi lain, Tasawuf berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Dapat disimpulkan bahwa Akhlak dan Tasawuf adalah dua istilah yang berbeda. Akhlak berfokus pada perilaku bermoral dan etika, sedangkan Tasawuf berfokus pada pemahaman dan pengalaman spiritual, yang membantu orang mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang keberadaan Tuhan. Itulah perbedaan Akhlak dan Tasawuf. 7. Akhlak dan Tasawuf adalah bidang yang berbeda dalam Islam. Akhlak dan Tasawuf adalah dua bidang yang berbeda dalam Islam. Akhlak mencakup semua aspek perilaku manusia, sedangkan Tasawuf adalah proses spiritual yang mengarahkan seseorang untuk mencapai keselarasan dengan Tuhan. Keduanya memiliki tujuan yang berbeda, tetapi bagaimanapun saling terkait. Pertama, Akhlak berkaitan dengan etika dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Ini mencakup peraturan tentang bagaimana orang harus bersikap dan bertingkah laku di hadapan orang lain, serta bagaimana mereka harus bersikap di hadapan Tuhan. Akhlak menekankan pada pengertian moral yang meliputi kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan hak asasi manusia. Kedua, Tasawuf adalah proses spiritual yang mengarahkan seseorang untuk mencapai keselarasan dengan Tuhan. Ini mencakup konsep pengabdian, pengorbanan, dan pengasihan. Hal ini juga terkait dengan ide-ide spiritual seperti pemahaman tentang Tuhan dan alam semesta, pengenalan akan hakikat, dan proses beribadah. Ketiga, Akhlak berfokus pada perilaku manusia di hadapan orang lain, sedangkan Tasawuf berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan. Akhlak berfokus pada perilaku yang dianggap benar dan diterima oleh masyarakat, sedangkan Tasawuf berfokus pada perjalanan spiritual untuk mencapai keselarasan dengan Tuhan. Keempat, Akhlak berfokus pada konsep moral dan etika, sedangkan Tasawuf berfokus pada konsep spiritual. Akhlak mencakup konsep-konsep seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Tasawuf mencakup konsep-konsep seperti pengabdian, pengorbanan, dan pengasihan. Kelima, Akhlak menekankan pada hakikat bahwa setiap orang memiliki hak moral untuk melakukan apa yang mereka anggap benar, sedangkan Tasawuf menekankan pada pengenalan Tuhan, dan proses beribadah. Akhlak menekankan pada peraturan moral yang berlaku dalam masyarakat, sedangkan Tasawuf menekankan pada proses spiritual untuk mencapai keselarasan dengan Tuhan. Keenam, Akhlak dapat diajarkan dan dipelajari, sedangkan Tasawuf merupakan proses yang harus dijalani oleh seseorang sendiri. Akhlak dapat dipelajari melalui banyak sumber, termasuk buku-buku, kursus, dan ajaran agama. Tasawuf adalah proses spiritual yang harus dijalani oleh seseorang sendiri, dengan bantuan orang lain yang sudah berpengalaman. Ketujuh, Akhlak dan Tasawuf adalah dua bidang yang berbeda dalam Islam. Akhlak mencakup semua aspek perilaku manusia, sedangkan Tasawuf adalah proses spiritual yang mengarahkan seseorang untuk mencapai keselarasan dengan Tuhan. Keduanya memiliki tujuan yang berbeda, tetapi bagaimanapun saling terkait. Akhlak berfokus pada perilaku manusia di hadapan orang lain, sedangkan Tasawuf berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan. Oleh karena itu, kedua bidang ini harus dipertimbangkan bersamaan untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan. 8. Pemahaman tentang perbedaan Akhlak dan Tasawuf akan membantu orang memahami tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Perbedaan antara akhlak dan tasawuf dalam Islam dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Terlepas dari sudut pandang yang berbeda, penting untuk mengetahui perbedaan antara kedua konsep ini dan bagaimana mereka saling terkait. Pemahaman tentang perbedaan akhlak dan tasawuf akan membantu orang memahami tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Pertama, akhlak adalah tindakan atau perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan moralitas. Akhlak selalu berkaitan dengan etika, norma sosial, dan nilai-nilai agama. Akhlak membantu orang memahami nilai-nilai Islam dan membentuk cara pandang mereka tentang bagaimana seharusnya berperilaku untuk mencapai tujuan tersebut. Akhlak juga mengajarkan nilai-nilai kepada orang agar mereka dapat mengenali dan menghormati nilai-nilai orang lain. Kedua, tasawuf adalah sebuah kata yang berasal dari kata Arab yang berarti spiritualitas’. Tasawuf membahas tentang kehidupan spiritual seseorang dan bagaimana mencapai kedekatan dengan Tuhan. Tasawuf menekankan pada pengembangan kualitas spiritual, yakni kualitas kepribadian, kualitas kehidupan, dan kualitas relasi dengan Tuhan. Ketiga, akhlak adalah sesuatu yang ditetapkan oleh agama dan merupakan sebuah perintah untuk menjalankan nilai-nilai yang ditentukan oleh agama. Akhlak adalah cara untuk menjalankan aturan agama dan membantu orang mencapai tujuan hidupnya. Akhlak membantu orang mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup melalui perilaku yang benar dan tepat. Keempat, tasawuf adalah sebuah cara untuk mencapai tujuan spiritual. Tasawuf menekankan pada pengembangan kualitas spiritual melalui pengalaman spiritual dan komitmen yang kuat terhadap Tuhan. Orang yang berjalan di jalan tasawuf akan mengalami peningkatan dalam kebajikan dan pengabdian, yang dapat mengarahkan mereka kepada kedekatan dengan Tuhan. Kelima, akhlak lebih menekankan pada etika dan moralitas dalam kehidupan seseorang. Akhlak menekankan pada perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Akhlak juga berkaitan dengan tata krama sosial dan berhubungan dengan cara pandang dan nilai-nilai orang lain. Keenam, tasawuf lebih menekankan pada pengembangan aspek spiritual dalam kehidupan seseorang. Tasawuf membantu orang mencapai kepuasan spiritual melalui pengalaman spiritual. Tasawuf menekankan pada pengabdian kepada Tuhan dan perjuangan untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan. Ketujuh, akhlak menekankan pada pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak dapat membantu orang menjadi lebih baik dalam hal etika dan moralitas, dan membantu mereka menjadi warga yang bertanggung jawab dalam masyarakat. Kedelapan, tasawuf menekankan pada pengembangan kualitas spiritual dan kedekatan dengan Tuhan. Tasawuf membantu orang mencapai tujuan spiritualnya dengan mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan spiritual yang benar. Tasawuf memungkinkan orang mencapai kedekatan dengan Tuhan dan kebahagiaan spiritual. Pemahaman tentang perbedaan akhlak dan tasawuf akan membantu orang memahami tujuan akhir ajaran Islam, yaitu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Akhlak menekankan pada pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan tasawuf menekankan pada pengembangan kualitas spiritual dan kedekatan dengan Tuhan. Dengan mengikuti ajaran akhlak dan tasawuf, orang bisa mencapai tujuan hidupnya dan mencapai kedekatan dengan Tuhan.
\n perbedaan akhlak dan tasawuf
Pengertiandan Ruang Lingkup Akhlak. Secara terminologis ada beberapa definisi tentang akhalak, diantaranya sebagai berikut: a. Menurut Al-Ghazali dalam, Akhlak adalah sifat yang
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Akhlak, Etika dan AkhlakKata akhlah berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlaq. Menurut bahasa akhlak adalah perangai, tabiat, dan agama. Dinamakan khuluq karena etika bagaikan khalqah karakter pada dirinya. Dengan demikian khuluq adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan seseorang. Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaannya dinamakan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi perkerti, watak, dan dengan pengertian khuluq yang berarti agama, Al-Fairuzzabadi berkata, “ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak. Barang siapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian, dan keadilan.”Secara sempit, pengertian akhlak dapat diartikan dengan kaidah untuk menempuh jalan yang yang sesuai untuk menuju akhlak akal tantang kebaikan dan akhlak menurut istilah, Menurut imam Al-Ghozali “akhlak adalah daya kekuatan sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan yag spontan tanpa memerlukan pertimbangan akhlak merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan Etika Etika berasal dari bahasa yunani “ethos” yang berarti kebiasaan perbiatan.netika adalah teori tentang perbuatan manusia dilihat dari baik dan buruknya. Etika memurut filsafat adalah ilmu yang menyelidiki perbuatan baik dan perbuataan buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh dapat diketahui oleh akal pikiran. MoralMoral berasal dari bahasa latin mores. Kata Jama’ dari mos yang berarti adat kebiasaan. Menurut istilah moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia. Yang baik dan wajar, sesuai dengan ukuran tindakan yang oleh umum diterima, meliputi kesatuan social atau lingkungan tertentu. B, Pengertian Tasawuf Secara lughawiSecara lughawi pengertian tasawuf dapat dilihat menjadi beberapa macam pengertian, seperti di bawah tasawuf berasal dari kata ahlu suffah ا هل ا لصفة yang berarti sekelompk orang pada masa Rasulullah SAW, yang hidupnya berdiam di serambi-serambi masjid, mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Kedua tasawuf berasal dari kata shafa صفا ء berarti “bersih” atau “suci” maksudnya adalah orang-orang yang menyucikan dirinya di hadapan tasawuf berasal dari kata shaf صفartinya orang-orang yang ketika shalat selalu berada di saf paling istilah tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang dari bani tasawuf berasal dari kata saufi سو فئ yang berarti tasawuf berasal dari kata shaufanah yaitu sebangsa buah-buahan kecil yang berbulu dan banyak yang tumbuh di padang pasir di tanah tasawuf berasal dari kata shuf صو ف yang berarti bulu domba atau tasawuf secara istilahPengertian tasawuf secara istilah adalah ilmu yang mengajarkan kepada manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada bingkai global, urgensi tasawuf yang disajikan bagi kalangan intelektual muda, seperti para mahasiswa, adalah upaya positif untuk sadar dan mengenal pada eksistensi dirinya, sehingga ia akan sampai pada eksistensi Tuhannya. Konsep pendidikan tasawuf yang terkenal adalah “ barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. Menurut Muhammad Ali Al-Qossab, tasawuf adalah akhlak yang mulia, yang timbul pada masa yang mulia dari seorang yang mulia ditengah-tengah kaum yang Al-Junaid ai-Baghdadi mendefinisikan tasawuf sebagai berikut “hendaknya kita berhubungan dengan al-Haqq tanpa perantara wasilah” dan dikitab lain dia juga mendefinisikan tasawuf adalah “hendaknya hidup dan matimu diserahkan kepada al-Haqq”.Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah SWT dan mengikuti syari’at Rosulullah SAW dalam mendekatkan diri dan mencapai Tasawuf Dalam Al-Qur’an dan Hadis Kajian tentang tasawuf semakin banyak diminti orang. Sebagai bukti, misalnya, semakin banyaknya buku yang membahas tasawuf yang banyak kita temui telah mengisi berbagai perpustakan terutama di Negara-negara yang berpenduduk muslim, juga Negara-negara barat sekalipun yang mayoritas masyarakatnya adalah ketertarikan mereka tidak dapat diklaim sebagai sebuah penerimaan bulat-bulat terhadap tasawuf. Ketertarikan mereka terhadap tasawuf dapat dilihat pada dua kecenderungan, yaitu pertama karena kecenderungan terhadap kebutuhan fitrah atau naluriah;Kedua, karena kecenderungan pada persoalan akademis. Kecenderungan pertaman mengisyaratkan bahwa manusia membutuhkan sentuhan-sentuhan spiritual atau rohani. Kecenderungan kedua mengisyaratkan bahwa kajian tasawuf menarik untuk dikaji secara akademis-keilmuan. Untuk melihat dasar-dasar tentang tasawuf, dalam kajian ini penulis akan mengetahkan landasan-landasan naqli dari tasawuf. Landasan naqli yang kami maksudkan adalah landasan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Kami memandang perlu menyajikan kedua landasan ini karena Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan kerangka acuan pokok yang selalu dipegang umat islam. Al-Qur’an Tasawuf pada awal pembentukannya adalah akhlak atau keagamaan, dan moral keagamaan ini banyak diatur dalm Al-Quran dan As-Sunnah. Jelaslah bahwa sumber pertamanya adalah ajaran-ajaran islam. Sebab tasawuf ditimba dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan amalan-amalan serta ucpan para sahabat. Amalan serta ucapan para sahabt itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan begitu, justru dua sumber utama tasawuf adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Al-Quran merupakan kitab Allah SWT. Yang di dalamnya terkandung muatan-muatan ajaran Islam, baik akidah , syariah, maupun muamalah .ketiga muatan tersebut banyak tercermin dalam ayat-ayat yang termaktub dalam Al-Quran. Ayat-ayat Al-Quran itu, di satu sisi memang perlu dipahami secara tektual-lahiriah, tetapi di sisi lain, ada juga yang perlu dipahami secara kontektual-rohaniah. Sebab jika dipahami hanya secara lahiriah, ayat-ayat Al-Quran akan terasa kaku, kurang dinamis, dan tidak mustahil akan ditemukan persoalan yang tidak dapat diterima secara psikis. Secara umum. Ajaran islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yangcukup besar dari sumber ajaran Islam. Ak-Quran dam As-Sunnah, serta praktik kehidupan Nabi Muhammmad SAW dan para sahabatnya. Al-Quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dapat saling mencintai mahabbah dengan Tuhan. Hal itu misalnya difirmankan Allah SWT dalam wahai orang-orang yang beriman ! Barang siapa di antara kamu yang murtad keluar dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan merekanpun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya , Maha Mengetahui. Al-Ma’idah [5]54Dalam Al-Quran, Allah SWT pun memerintahkan manusia agar senantiasa bertobat, membersihkan diri, dan memohon ampunnan kepada-Nya sehingga memperoleh cahaya HaditsDalam hadis Rasulullah SAW banyak dijumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah manusia. Berikut ini beberapa matan hadis yang dapat dipahami dengan pendekatan tasawuf. Artinya “barang siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya” Hadis ini di samping melukiskan kedekatan hubungan antara Tuhan dan manusia, sekalipun mengisyaratkan arti bahwa manusia dan Tuhan adalah satu. Jadi barang siapa yang ingin mengenal Tuhan cukup mengenal dan merenungkan perihal dirinya sendiri. Dasar-dasar tasawuf baik Al-Quran , Al-Hadis, maupun teladan dari para sahabat, ternyata merupakan benih-benih tasawuf dalam kedudukannya sebagai ilmu tentang tingkatan maqomat dan keadaan ahwal. Dengan kata lain, ilmu tentang moral dan tingkah laku manusia terdapat rujukannya dalam Al-Qura, bahwa pertumbuhan pertamanya, tasawuf ternyata ditimba daro sumber Al-Quran. dan Persamaan antara Akhlak, Etika, dan Antara Akhlak, Etika, dan MoralAda beberapa persamaan antara akhlak, etika, dan moral, yaitu sebagai berikut etika, dan moral mengacu pada ajaran atau gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, sifat, dan perangai yang etika, dan moral merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk mengukur martabat dan harkat etika, dan moral seseorang atau sekelompok orang tidak semata-mata merupakan faktor keturunan yang bersifat tetap dan konstan, tetapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap Antara Akhlak, Etika, dan MoralAkhlak merupakan istilah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nilai-nilai yang menentukan baik dan buruk, layak atau tidak layak suatu perbuatan, kelakuan, sifat, dan perangai dalam akhlak yang bersifat universal dan bersumber dari ajaran Allah SWT. Sedangkan etika sendiri merupakan filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, dan kesusilaan tentang baik dan dan Manfaat Akhlak TasawufPada dasarnya, tujuan pokok akhlak adalah agar setiap muslim berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai atau beradat-istiadat yang baik sesuai dengan ajaran islam. Ibadah-ibadah inti dalam islam juga memiliki tujuan pembinaan akhlak mulia. Misalnya, shalat bertujuan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela; zakat disamping bertujuan menyucikan harta juga bertujuan menyucikan diri dengan memupuk kepribadian mulia cara membantu sesama; puasa bertujuan mendidik diri untuk menahan diri dari berbagai syahwat. Dengan demikian, tujuan secara umum adalah membentuk kepribadian seorang muslim yang memiliki akhlak mulia, baik secara lahiriyah maupun batiniah. sumberAnwar, Rosihon. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung Pustaka Ahmad. 2007. Sang Maha-Segalanya Mencintai Sang Maha-Siswa. Surabaya Temprina Media Dahlan. 2010. Tasawuf Irfani. Malang UIN-Maliki Press. Lihat Pendidikan Selengkapnya
PerbedaanAkhlak Dan Tasawuf 02/06/2012 pengertian anoda dan katoda diposting oleh sapta andika selasa, 12 juni 2012 at 22.45 8 komentar. Labels : 1. Arus listrik mengalir berlawanan dengan arah pergerakan elektron., agar lebih jelas dan paham mengenai apa itu katoda dan anoda , maka di bawah ini diuraikan secara singkat mengenai keduanya
Ajaran Tasawuf Tasawwuf atau Sufisme bahasa Arab تصوف dalam islam hingga saat ini masih menuai pro dan kontra. Sebagian ulama menganggap bahwa tasawuf merupakan ajaran sesat yang bersumber dari kaum Nasrani, Hindu, Buddha, dan Yahudi Mereka beragumen, bahwa tasawuf/sufisme hanyalah topeng agar seseorang terlihat ta’at kepada Tuhannya. Sedangkan yang lain, berpendapat bahwa tasawuf adalah perwujudan hamba untuk mensucikan hati agar terhubung secara langsung kepada keberadaan ilmu tasawuf menjadi gonjang-ganjing di kalangan ulama, bahkan tidak diakui sebagai bagian dari islam, tapi tidak ada salahnya kita mempelajari sedikit perihal imu tasawuf, khususnya tasawuf akhali. Agar nantinya kita bisa lebih mengetahui tentang sejarah peradaban islam. Baca juga Tasawuf Sunni Pengertian, Sejarah, dan Manfaatnya dan Hubungan Akhlak dan Tasawuf dalam IslamPengertian TasawufMenurut para ahli sejarah, Tasawuf dalam islam lahir sekitar abad ke-2 atau di awal abad ke-3 Hijriyah. Tasawuf dapat diistilakan sebagai ajaran mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan usaha mensucikan hati untuk memperoleh kebahagian abadi. Sedangkan orang-orang yang mendalami ilmu tasawuf dikenal dengan istilah hingga detik ini, para ulama masih berselisih paham terkait definisi kata tasawuf secara bahasa etimologi. Ada yang menyebutnya sebagai shuffah serambi tempat duduk, shafa’ suci bersih, shuf pakaian dari bulu domba, shaf barisan, dan shufanah kayu yang tumbuh di padang pasir. Sedangkan menurut imam Junaidi Al Bhagdad, Tasawuf diartikan sebagai upaya untuk mengenal Allah SWT merasa tidak memiliki apapun dan tidak dimiliki siapapun kecuali Allah SWT dengan melakukan akhlak yang baik menurut Sunnah Rasul, meninggalkan Akhlak buruk, dan melepaskan hawa keseluruhan, ilmu tasawuf dikelompokan menjadi tiga macam, yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf amali, dan falsafi. Dalam kesempatan kali ini, kita akan mengkaji aliran tasawuf akhlaki lebih mendalam. Mulai dari definisi, tingkatan ajaran, dan Tasawuf Akhlaki dan TingkatannyaTasawuf Akhlaki merupakan tasawuf yang berfokus pada perbaikan akhlak dan budi pekerti, berupaya mewujudkan perilaku yang baik Mahmudah serta menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela Mazmumah. Tasawuf akhlaki ini disebut juga dengan tasawuf sunni, dikembangkan oleh para ulama salaf as-salih dengan menerapkan metode-metode para sufi, pengembangan tasawuf akhlaki dibangun sebagai dasar latihan kerohanian dengan tujuan mensucikan hati dan mengendalikan hawa nafsu sampai ke titik terendah. Sehingga nantinya tidak akan ada penghalang yang membatasi manusia dengan Tuhannya. Nah, agar lebih mudah dalam mewujudkan ajaran Tasawuf Akhlaki ini, para sufi menyusun beberapa tahapan sistem, yang meliputi Takhalli, Tahalli, dan adalah tahapan pertama yang dilakukan oleh seorang sufi untuk membersihkan melepaskan diri dari perilaku buruk, seperti berbuat maksiat, kecintaan kepada dunia yang berlebihan, berprasangka su’udzon, ujub, hasad, riya, ghadab, dan sejenisnya. Sebagian sufi berpendapat bahwa perbuatan maksiat merupakan najis maknawiyah yang bisa menghalangi kedekatan hamba dengan Rabbnya. Oleh karena itu, sifat-sifat nafsu dalam diri harus dimusnakan agar manusia tidak terjerumus ke dalam imam Al-Ghazali mempunyai pendapat lain. Menurutnya, selama hidup di dunia setiap manusia pasti membutuhkan nafsu. Bukan untuk melakukan hal-hal buruk, tapi nafsu diperlukan demi menjaga keharmonisan keluarga, membela harga diri, dan hal-hal positif lainnyaTahalliSetelah membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela,tahapan berikutnya yang perlu dilakukan adalah pengisian jiwa atau disebut Tahalli. Pada tahap ini, seorang sufi diharuskan membiasakan diri dengan akhlak-akhlak terpuji sabar, ikhlas, ridha, taubat, dan itu, juga menjalankan ketentuan syariat agama, seperti sholat, puasa, zakat, membaca Al-Quran, dan berhaji bila mampu. Dengan demikian, apabila seseorang telah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan mulia, taat dan beriman kepada Allah SWT maka lama-kelamaan hati pun akan menjadi yang terakhir adalah Tajalli yang berarti tersingkapnya nur ghaib. Di tahap ini, seorang sufi benar-benar menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT di dalam hatinya. Tujuannya agar perilaku-perilaku baik yang telah dilakoni pada tahap Tahalli tidak luntur begitu saja, dan bisa terus Tajalli biasanya dilakukan dengan cara bermunajat kepada Allah SWT, yaitu memuja dan memuji keagungan Allah SWT. Kemudian bermusahabah merenungi dosa-dosa yang telah diperbuat, muraqabah merasa jiwa selalu diawasi oleh Allah SWT, Tafakkur merenungi kekuasaan Allah dalam menciptakan alam semesta, serta memperbanyak amalan Sufi yang Mengembangkan Tasawuf AkhlakiTasawuf Akhlaki pertama kali berkembang di pertengahan abad kedua hingga abad keempat hijriyah. Adapun tokoh-tokoh sufi yang tergabung dalam tasawuf ini , meliputi Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa, al-Junaidi al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, dan al-Harowi. Selanjutnya di abad kelima hijriyah, imam Al Ghozali, Al Harawi, dan Al Qusyairi mulai mengadakan pembaharuan dengan mengembalikan dasar-dasar tawasuf yang sesuai dengan Al Quran dan as ini beberapa tokoh yang paling berpengaruh dalam pengembangan tasawuf akhlakiHasan Al-Basri 21 H- 110 HHasan Al-Bashri memiliki nama lengkap Abu Said Al-Hasan bin Yasar, adalah seorang zahid dari kalangan tabiin yang lahir di Madinah pada tahun 21 Hijriyah. Beliau merupakan pelopor utama yang mulai memperluaskan ilmu-ilmu kebatinan dan kesucian pandangannya, tasawuf merupakan ajaran untuk menanamkan rasa takut baik itu takut akan dosa-dosa, takut tidak mampu memenuhi perintah dan larangan Allah, takut akan ajal atau kematian di dalam diri setiap hamba dan senantiasa mengingat Allah SWT. Beliau berpendapat bahwa dunia adalah ladang beramal, banyak duka cita di dunia dapat memperteguh amal 165 H – 243 HAl-Muhasibi memiliki nama lengkap Abu Abdillah Al-Harist bin Asad Al-Bashri Al- Baghdadi Al-Muhasibi. Beliau lahir di Bashroh, Irak pada tahun 165 Hijriyah. Menurut beliau, tasawuf berarti ilmu yang mengajarkan untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT, menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba dan meneladani akhlak Rasulullah juga berpendapat ada 3 hal yang perlu ditekankan untuk membersihkan jiwa dan mencapai jalan keselamatan, yaitu melalui Ma’rifat Mengenal Allah SWT dengan mata hati, Khauf rasa takut, dan Raja’ pengharapan.Al-Qusyairi 376 H- 465 HAl-Qusyairi memiliki nama lengkap Abdul Karim bin Hawazim. Beliau lahir di kawasan Nishafur pada tahun 465 Hijriyah, dimana beliau ini merupakan seorang ulama yang ahi dalam berbagai disiplin ilmu pada tasawuf Al-Qusyairi didasarkan pada doktrin Ahlusunnah Wal Jama’ah dan berlandasakan ketauhidan. Beliau mengadakan pembaharuan di ajaran tasawuf, dengan menentang keras doktrin-doktrin aliran Karamiyah, Syi’ah, Mu’tazilah, dan Mujassamah. Ia juga menjelaskan pembeda antara dzahir dan bathil, serta syariat dan hakikat. Menurutnya, tidak haram jika seseorang menikmati kesenangan dunia, asalkan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan 450 H – 505 HAl-Ghazali memiliki nama lengkap Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi. Beliau lahir di kota Khurasan, Iran pada tahun 450 Hijriyah. Di masa hidupnya, Al Ghazali merupakan seorang ahli ilmu yang dikagumi oleh banyak ulama besar. Beliau juga dikenal sebagai seorang Sufi, Filosof, Fuqoha ahli fiqh, dan Mutakallim. Beliau juga memiliki banyak gelar, salah satunya Hujjah al-islam yang diperolehnya dari kerajaan Bani halnya Al-Qusyairi, Al-Ghazali juga berupaya mengembalikan ajaran tasawuf yang sesuai syariat agama dan bersih dari aliran-aliran asing yang menyesatkan islam, dengan berpedoman pada Al Quran dan As sunnah Ajaran Rasulullah Saw. Tasawuf Al-Ghazali lebih kepada penekanan pendidikan moral, dimana seseorang dianjurkan memperdalam ilmu aqidah dan syariat terlebih dahulu sebelum mempelajari sedikit ulasan mengenai ajaran tasawuf akhlaki. Yang perlu kita pahami, bahwa memang penting bagi seorang hamba mendekatkan diri kedapa Allah SWT. Namun bukan berarti kita melalaikan urusan di dunia. Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup, sebagai firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 105“Dan Katakanlah “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” At-Taubah 105Semoga bermanfaat.
PerbedaanAkhlak, Etika dan Moral. Dalam dokumen Akhlak Perspektif Pemikiran Tasawuf Syeikh Abdurrauf As-Singkili (Halaman 38-45) Etika dan moral, 41 sering disamakan dengan pengertian akhlak, demikian pula dengan ilmu akhlak dan Ethics. Juga ada yang berpandangan bahwa akhlak adalah Etika Islam.
MAKALAH AKHLAK TASAWUF TENTANG Definisi Akhlak, Tasawuf, Persamaan Dan Perbedaan Serta Hubungan Keduanya DI SUSUN OLEH KELOMPOK I AGUS RIZAL Nim ADE IRAWAN DOSEN PEMBIMBING JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PAI SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYEKH BURHANUDDIN STIT SB PARIAMAN TAHUN 2016 / SEMESTER III DAFTAR ISI BAB I. 3 PENDAHULUAN.. 3 Latar Belakang. 3 Rumusan Masalah. 4 BAB II. 5 PEMBAHASAN.. 5 PENGERTIAN DAN DEFINISI AKHLAK.. 5 Pengertiannya. 5 Definisi Akhlak. 6 Akhlak dan Ilmu Akhlak. 7 Etika dan Moral 8 Jenis-jenis Akhlak. 8 TASAWUF. 8 Pengertian Tasawuf. 8 Definisi Tasawuf. 10 Sejarah Kemunculan tasawuf. 10 PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKHLAK DAN ILMU TASAWUF 12 Persamaan Etika, Moral, dan Akhlak. 12 Hubungan Manusia dengan Etika, Moral dan Akhlak. 13 KEDUDUKAN AKHLAK DAN TASAWUF DALAM ISLAM SERTA HUBUNGAN KEDUANYA 16 Kedudukan akhlak dalam islam.. 16 Kedudukan Tasawuf Dalam Islam.. 16 HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA.. 19 Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf. 19 HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF DALAM ISLAM… 19 Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid. 21 Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa. 25 Hubungan Ilmu Jiwa dengan Ilmu Pendidikan. 25 BAB III. 26 PENUTUP. 26 kesimpulan. 26 Saran. 26 Daftar Pustaka. 27 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Akhlak Tasawwuf adalah merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan, secara historis dengan teologis akhlak tasawwuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umar agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad SAW. Adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima. Khazanah pemikiran dan pandangan di bidang akhlak da tasawwuf itu kemudian menemukan momentum pengembangan dalam sejarah, antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawwuf dan ulama di bidang akhlak. Bersamaan dengan itu perkembangan teknologi di bidang alat-alat anti hamil, makanan minuman, dan obat-obatan telah membuka peluang terciptanya kesempatan untuk membuat produk alat-alat, makanan, minuman dan obat-obatan terlarang yang menghancurkan masa depan generasi muda. Tempat-tempat beredarnya obat terlarang semakin canggih. Demikian juga sarana yang membawa orang lupa pada tuhan, dan cenderung maksiat terbuka lebar di mana-mana. Semua in semakin enambah beban tugas akhlak tasawuf. Melihat demikian pentingnya akhlak tasawwuf dalam kehidupan ini tidaklah mengherankan jika akhlak tasawuf ditentukan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh kita semua dikarenakan pentingnya tersebut. Disadari bahwa masih banyak bidang akhlak tasawwuf yang dapat dikemukakan, namun keterbatasan ilmu yang kami miliki kami mohon maaf jika mempunyai kesalahan dalam pengumpulan data referensi yang kami kumpulkan ini. Rumusan Masalah Apa definisi Akhlak? Apa definisi Tasawuf? Bagaimana untuk memahami tujuan dari akhlak dan tasawwuf? Apa saja faidah dari mempelajari akhlak tasawwuf ? Apa persamaan dan perbedaan antara Akhlak dengan Tasawuf ? Bagaimana Hubungan antara Akhlak dengan Tasawuf? BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN DAN DEFINISI AKHLAK A. Pengertiannya Kata akhlak berasal dari bahasa arab yang sudah diindonesiakan, yang juga di istilahkan perangai atau kesopanan. Kata اَخْلاَقٌ Adalah jama’ Ta’sir dari kata خُلُقٌ . Kata tersebut diatas , merupakan jamak taksir yang tetap, atau tidak dapat diubah ubah bentuknya dengan jama’ taksir yang lain. Hal ini , berbeda dengan kata جَمَلٌ Unta bisa diubah ubah bentuk jamak taksirnya menjadi beberapa macam bentuk, Misalnya أَجْمَالٌ جِمَالٌ جِمَالَةٌ جِمَالاَتٌ أَجَامِلٌ جَمَائِلٌ جَمْلٌ Dan جَامِلٌ Ahli bahasa arab sering menyamakan arti akhlak dengan istilah الَسَّجِيَّةُ , اَلطَّبْعُ , اَلعَادَةٌ , اَلدِّيْنُ , اَلْمُرُوْءَةٌ yang kesemuanya diartikan dengan akhlak,watak, kesopanan, perangai, kebiasaan dan sebagainya. Selanjutnya , Barmawie Umarie[1] menguraikan pengertian sebagai berikut Asal kata akhlak adalah meervoud dari khildun yang mengandung segi-segi persesuaian dengan kata khaliq dan makhluq. Dari sinilah perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara makhluk dengan khalik, serta makhluk dengan makhluk lainnya. B. Definisi Akhlak Para Ulama Ilmu Akhlak merumuskan ilmu akhlak dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakan, antara lain Al-Qurtuby mengatakan Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab-kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadian. Muhammad bin Ilan Al-Sadiqy mengatakan Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan yang baik, dengan cara mudah Tanpa dorongan dari orang lain . Ibnu Maskawaih mengatakan Akhlak ialah keaadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat, tanpa memikirkan lebih lama. Abu Bakar Jabir Al-Jaziri mengatakan Aklhak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang disengaja. Imam Al-Ghazali mengatakan Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan, tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama . Maka jika sifat tersebut melahirkansuatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma Agama, dinamakan akhlak baik . tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, dinamakan akhlak yang buruk. Imam A-Ghazali menekankan, bahwa akhlak adalah sifat yang teranam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik dan buruknya, dengan menggunakan ukuran ilmu pengetahuan dan norma Agama. Dari eberapa definisi diataas dapat ditarik definisi lain bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya. Maka gerakan refleks, denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat disebut akhlak , karena gerakan tersebut tidak diperintahkan dari unsur kejiwaan. Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia , pada dasarny bersumber dari kekuatan bathin yang dimilki oleh setiap manusia, Yaitu Tabiat pembawaan , ialah suatu dorongan jiwa yag tidak dipengaruhi oleh lingkungan manusia, tetapi disebabkan oleh aluri dan faktor warisan sifat-sifat dari orang tuanya atau nenek moyangnya. Akal – fikiran yaitu dorongan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan manusia setelah melihat sesuatu, mendengarkan, merasakan, dan merabanya. Alat kejiwaan ini , hanya dapat menilai sesuatu yang lahir yang nyata . Dorongan ini disebut dengan istilah Al- Aqlu. Hati nurani yaitu dorongan kejiwaan yang hanya dipengaruhi oleh faktor intuitif wijdan . alat kejiwaan yang dapat menilai hal-hal yang sifatnya abstrak yang bathin . dorongan ini disebut Al- Bashirah. Karena dorongan ini mendapatakn ketereangan ilham dari Allah. Ketiga kekuatan kejiawaan dalm diri manusia inilah yang menggambarkan hakikat manusia itu sendiri. Maka konsep dalam pendidikan dalam islam , selalu memperhatika ketiga kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan seimbang sehingga terwujud manusia yang ideal Insal Kamil menurut konsepdi Islam. C. Akhlak dan Ilmu Akhlak Akhlak adalah suatu istilah Agama yang dipakai menilai perbuatan manusia, apakah itu baiak atau buruk, sedangkan ilmu Akhlak adalah suatu illmu pengetahuan Agama Islam, yang berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada manusia. D. Etika dan Moral Etika Ethos adalah kata Yunani yang bearti Adat, watak atau kesusilaan. Sedagkan Moral Mos yang jama’nya Mores adala kata latin yang berarti adat atau cara hidup. Istilah Etika digunakan untuk mengkaji sistem nilai yang ada, oleh karena itu etika merupakan suatu ilmu. Istilah Moral digunakan untuk memberikan keritaria perbuatan yang sedang dinilai. Oleh karena itu moral bukan suatu ilmu, tetapi merupakan suatu perbuatan manusia. E. Jenis-jenis Akhlak Akhlak baik /terpuji, yaitu perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Akhlak buruk/ tercela yaitu perbuata buruk terhadap tuhan, sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain. TASAWUF A. Pengertian Tasawuf Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf, Harun Nasution misalnya menyebut kan lima hal yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu al-shuffah ahl-al-shuffah,orang yang ikut nabi dari makkah ke madinah , saf barisan , sufi suci , shopos bahasa yunani hikmat , dan suf kain wol . Keseluruhan kata-kata ini bisa saja dihubungkan dengan tasawuf. Dari segi linguistik kebahasaan ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri yang pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia. Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantug pada sudut pandang yang digunakan masing-masing, selama ini aada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisika tasawuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang bertuhan. Jika dilihat dari sudut pandang manusia yang terbatas maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT. Jika dilihat sudut pandang manusia yang harus berjuang maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agamadalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT,dan jika sudut pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah.[2] Para ahli dalam bidang tasawuf hampir sepakat mengatakan bahwa sulit untuk merumuskan pengertian tasawuf . diantara sebab utama terjadinya hal itu karena tasawuf merupakan refleksi diri dan pengalaman pribadi seseorang[3]. Sementara itu salah seorang Ulama asal minangkabau Hamka, juga mengemukakan pendapat yang senada. Menurutnya, arti tasawuf dan asal katanya menjadi pertikaian ahli logat atau bahasa, yaitu pertama, shafa yang berarti suci bersih, ibarat kaca. Kedua dari kata shuf yang berarti bulu binatang dibaca wol kasardan mereka tidak menyukai pakaian yang indah-indah. Ketiga berasal dari kata shuffah yang diasosiasikan kepada segolongan sahabat nabi yang menyisihkan dirinya di suatu tempat terpencil disamping mesjid nabi. Keempat berasal dari kata shufanah yaitu sebatang kayu mersik yang tumbuh dipadang pasir arab. Kelima, dari theosofie, yang berarti ilmu ketuhanan yang kemudian diucapkan oleh lidah orang arab sehingga berubah menjadi tasawuf. Asal kata kelima inilah menurut Hamka baru digunakan untuk zaman akhir ini dan oleh para ahli yang menganggap sufi bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahsa yunani yang diarabkan[4] B. Definisi Tasawuf. Para ulama tasawuf berbeda cara mamndang kegiatan tasawuf sehingga mereka merumuskan definisinya juga berbeda Ada definisi yang dikemukakan oleh para ahlinya Shekh Muhammad Amin al-Kudri “Tasawuf adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ikhwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat2 terpuji cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan Laranganya menuju kepada perintahnya . Imam Al-Ghazali mengemukakan pendapat Abu Bakar Al Kuttai. Tasawuf adalah budi pekerti ; barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, bearti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima perintah untuk beramal, karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan Nur petunjuk islam. Dan ahli zuhud yang jiwanya menerima perintah untuk melakukan beberapa akhlak terpuji karena mereka telah melakukan suluk dengan nur petunjuk Imannya.[5] C. Sejarah Kemunculan tasawuf Jika dilihat dari sudut pandang munculnya tasawuf , praktek dan substansi ajaran tasawuf sebenarnya sebenarnya sudah melembaga dalam setiap invidu para sahabat nabi dan akan lebih nyata lagi pada pribadi nabi Muhammad SAW sendiri. Munculnya tasawuf sebagai disiplin ilmu tasawuf tersendiri baru nampak setelah ia diperdebatkan sebagai satu istilah sekitar akhir abad kedua Hijriah 815 H yang dinamakan wol kasar atau shuf. Pakaian ini banyak digunakan para zahid muslim sebagai pembeda diri mereka dengan orang lain yang senantiasa memakai pakaian mewah. Dalam kondisi ini shuf/wol kasar merupakan simbol sebagai orang hidup fakir dihadapan Allah SAW. Dan sejarahnya zahid pertama yang menggunakanya adalah Abi Hasan Al Khuff H . Perwujudan tasawuf secara resmi ini yang terkesan terlambat tersebut dijadikan landasan kritik bagi oreantalis, bahwa tasawuf bukan muncul dari dunia islam melainkan kemunculannya dipengaruhi oleh berbagai diluar islam/tradisi kerohanian agama-agama lain. Terkaitan dengan rumusan akar kata tasawuf ini ,barangkali menarik dan penting menguntip pendapat Harun Nasution[6], secara komprensif yang mengemukakan lima rumusan asal kata tasawuf, yaitu Pertama ahl al shuffaah ,yang beararti orang yang ikut nabi hijriah dari mekah ke madinah yang merupakan refleksi keikhlasan seseorang meninggalkan harta benda demi kepentingan Allah dan Rasul-Nya. Kedua Shaff yang bermakna saf pertama dalam sholat berjama’ah yang mendapat kemuliaan dan pahala, begitu juga dengan kaum sufi dimuliakan Allah SWT dan diberi pahala yang berlimpah. ketiga ;shufi ,yang bermakna bersih atau suci ,yaitu orang yang telah mensucikan dirinya dengan latihan-latihan riyadhah yang berat dan lama. Keempat Shophos, dari bahasa yunani yang berarti hikmah, dimana orang orang sufi adlah orang-orang yang mendapat atau mempunyai hikmah. Dengan demikian seorang sufi merupakan gambaran kearifan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran. Kelima dari kata shuff, yang berarti kain wol kasar yang senantiasa yang dipakai kalangan sufi sebagai simbol kesederhanaan, tidak mementing kehidupan materialisme duniawi, sehingga tetap dalam tuntunan mengabdi kepada Allah SWT. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKHLAK DAN ILMU TASAWUF A. Persamaan Etika, Moral, dan Akhlak 1. Persamaan Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk. Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal Objek yaitu perbuatan manusia Ukuran yaitu baik dan buruk Tujuan membentuk kepribadian manusia[7] 2. Perbedaan Sumber atau acuan Etika sumber acuannya adalah akal Moral sumbernya norma atau adapt istiadat Akhlak bersumber dari wahyu Sifat Pemikiran Etika bersifat filososfis Moral bersifat empiris Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan akal Proses munculnya perbuatan Etika muncul ketika ad aide Moral muncul karena pertimbangan suasana Akhlak muncul secara spontan atau tanpa pertimbangan.[8] B. Hubungan Manusia dengan Etika, Moral dan Akhlak Beberapa hari terakhir ini kita mendapat sajian fakta hukum yang mengenaskan dalam perjalanan Republik ini. Mafia hukum bertebaran dimana-mana, bahkan sampai mencabik-cabik prosedur hukum yang telah dijalankan pemerintah. Makelar hukum yang biasa dikenal markus juga begityu perkasa merekayasa berbagai status hukum yang tak jelas duduk perkaranya. Akhirnya, aparat penegak hukum menjadi aktor yang merusak tatanan sistem hukum itu sendiri. Fakta hukum di Indonesia inilah yang sekarang menjadi keluh-kesah masyarakat. Bahkan masyarakat sekarang tidak sedikit yang apriori, bahkan tidak lagi percaya atas kasus perkara yang diajukan ke meja hijau. Karena hukum sudah dibeli oleh oknum tak bertanggungjawab. Kasus “cicak” versus “buaya” yang sampai sekarang belum usai adalah fakta empiric bobroknya penegakan hukum di Indonesia. Berangkat dari fakta inilah, menarik kalau kita menjelajah buku bertajuk “Etika dan Hukum; Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas”. Bertolak dari pemikirannya Thomas Aquinas, penulis melihat bahwa hukum pada dasarnya merupakan “peta jalan” menuju kebahagiaan. Hukum merancang atau memetakan arah yang harus diambil manusia dalam perbuatan, jika manusia ingin mencapai tujuan akhir yang dicarinya. Peta tersebut adalah hasil karya budi manusia, sebab sebelum peta itu dibuat terlebih dahulu orang harus memikirkan tujuannya dan jalan yang dapat menuntunnya kearah tujuan tersebut. Demikian juga arah dan tujuan hidup manusia. Dalam hal ini, hukum selalu merupakan perintah atau petunjuk akal budi yang mengatur perbuatan manusia menuju sasarannya, yakni kebahagiaanan kebaikan umum[9] hlm. 243. Alam pandangan hukum kodrat, manusia akan secara alamiah membentuk dan mengoraganisir diri dalam membentuk tatanan sosial dan politik. Semua itu dilakukan manusia demi memenuhi kebutuhan hidup bersama berdasarkan kebaikan dan kesejahteraan umum. Sebenarnya, bagi Aquinas, dalam diri manusia sudah ada tiga aspek pengaturan yang ditetapkan. Yang pertama, berhubungan dengan aturan akal budi, karena semua perilaku dan perasaan kita harus diatur berdasarkan aturan akal budi. Kedua, berhubungan dengan aturan yang berasal dari hukum ilahi, yang dipergunakan untuk mengatur manusia dalam segala kehidupannya. Seandainya manusia menurut kodratnya harus hidup sendirian, dua aspek pengaturan ini sudah memadai, namun karena manusia menurut hukum kodratnya adalah makhluq politik dan makhluq sosial, maka diperlukan aturan ketiga, yakni manusia harus diarahkan untuk hidup selalu dalam hubungan dengan sesamanya. Independensi manusia dalam menegakkan hukum ini mendapat perhatian serius dari Aquinas. Karena setiap persona mempunyai substansi kehidupannya sendiri yang berperan sangat penting dalam penegakan sebuah hukum. Nilai-nilai dasar kemanusiaan sebenarnya sudah melekat dalam diri persona manusia. Kedudukan yang substansial ini dikarenakan, pertama, manusia adalah makhluq otonom dan unik; kedua, manusia adalah persona yang korelatif. Otonomi dan kebebasan adalah dimensi transedental manusia sebagai persona. Manusia juga memiliki kodrat rasional, sehingga manusia adalah makhluq yang “sadar diri” atau memiliki kemampuan untuk berbuat secara manusiawi. Sedangkan dalam kodrat substansial, manusia mampu untuk menghadirkan diri dan berkembang sebagai subjek yang otonom. Kodrat rasional yang substansial inilah yang membentuk pola etis kehidupan manusia. Karena dalam diri manusia terdapat kecenderungan pada kebaikan sesuai dengan kodrat yang juga berlaku untuk semua substansi, sedemikian rupa sehingga setiap substansi mengusahakan pelestarian keberadaannya sesuai dengan hekakat kodratnya. Dalam kaitan inilah, Aquinas menyatakan bahwa segala sesuatu yang diketahui hekaket tujuan akhir, memiliki hakekat baik. Pernyataan ini menjadi akar penjabaran Aquinas tentang teori moralnya. Karena makhluq rasional yang berakal budi, maka manusia haruslah “sadar diri” dalam posisinya sebagai makhluq. Dengan “adar diri” ini, manusia akan menjadi tuan atas perbuatannya. Tuan bagi perbuatan inilah yang mengantarkan manusia kepada hakekat kemanusiaanya, dan disitulah manusia dengan akal budinya berjalan dalam nilai etis moralnya dalam menjalankan kehidupan. Akal budi manusia akan menuntun manusia untuk menemukan wujud kebaikan dan keadilan yang didambakan. Akal budi menjadi asas pertama perbuatan manusia, dan hukum merupakan aturan dan ukurannya, yang sudah seharusnya hukum memang bersumber dari akal budi. Jika hukum disusun supaya dapat mengikat perbuatan manusia, maka hukum harus adil dan membimbing manusia menuju tujuan akhir, yakni kebaikan. Kebaikan dan keadilan akan membuka keharusan ketaatan moral untuk menjadikan hukum sebagai penegak tata social yang harmonis dan seimbang. Rasa kebaikan dan keadilan akan membingkai moralitas dalam penegakan hukum. Moralitas penegak hukum bisa ditegakkan dengan selalu mencerahkan akal budianya untuk terus “sadar diri” atas keberadaannya sebagai “tuan” atas perbuatan yang dijalankan. “Sadar diri” inilah yang menjadi pangkal tolak yang diajukan Aquinas dalam membingkai hubungan etika dalam penegakan hukum. Kesadaran diri manusia harus selalu diolah, karena bagi Aquinas, kesadaran diri merupakan potensi yang harus ditafsirkan secara kritis, sehingga akan melahirkan gagasan yang segar dan mencerahkan. Makhluq yang “sadar diri” pastilah akan membuka jalan baru kehidupan yang mencerahkan dan membahagiakan. Dalam konteks ini, fakta rusaknya penegakan hukum di Indonesia bisa ditafsirkan sebagai ambruknya nilai “sadar diri”, sehingga jatuhlah nilai dan hekakat hukum. Penegak hukum bukan lagi “tuan” atas perbutannya, tetapi “tuan” bagi kekuasaan, uang, dan jabatan.[10] KEDUDUKAN AKHLAK DAN TASAWUF DALAM ISLAM SERTA HUBUNGAN KEDUANYA A. Kedudukan akhlak dalam islam Beberapa abad sebelum lahirnya agama islam disunia ini penuh kegelapan dengan runtuhnya peradaban manusia, yang sebenarnya diakibatkan oleh penyimpangan manusia dari agama tauhid yang telah dianut oleh leluhurnya, semenjak Nabi Adam As hingga Nabi Isa As. Ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi sejak awal hingga masa lahirnya agama islam selalu menjaga martabat kemanusiaan agar tidak mengalami penurunan yang berakibat menyamaai martabat kebinatangan. Tetapi apa yang dikhawtirkan oleh nabi2 betul-betul terjadi dikalangan manusia dimana mereka saling merusak dirinya dengan bermaacam kezaliman bahkan nabinya juga dimusuhi dengan dibunuh dengan alsan bahwa ialah yang menghalangi2 kebebbasan mereka melakukan hal-hal yang dikeendakinya. Untuk mengetahui kedudukan akhlak dalam islam maka perlu diuraikan bahwa ada tiga macam sendi islam Masalah Aqidah, yang meliputi keenam macam rukun islam. Masalah Syari’ah, yang meliputi pengabdian hamba terhadap tuhannya yang dapat dilihat dalam rukun islam yang lima. Masalah Ihsan, yang meliputi hubungan terhadap Allah SWT, terhadap manusia dan seluruh makhluk hidup didunia ini. B. Kedudukan Tasawuf Dalam Islam Telah disebutkan pembahasan dimuka , bahwa ajaran akhlak dan tasawuf terdapat dalam sendi ajaran ihsan, maka tasawuf itu sendiri merupakan pengalaman hamba yang melahirkan kebijakan rohani untuk mendapatkan ma’rifah kepada Allah SWT. Mengenai kedudukan tasawuf dalam islam terdapat beberapa pendapat yang mengatakan, bahawa hal itu tidak termasuk bagian integral dari ajaran islam dengan mengmukakan argumentasi Tidak terdapat satupun kata tasawuf dan sufi dalam Qur’an dan Hadits Banyak istikah tasawuf yang sering digunakan sufi yang tidak ditemukan oleh al qur;an dan hadis. Timbulnya istilah tasawuf dan sufi beserta dengan ajarannya baru dikenal pada abad hijriyah. Ajaran tasauf yang di amalkan oleh orang islam mirip dengan ajaran mistik yang telah diamalkan oleh umat terdahulu. Ajaran tasauf dalam islam,memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun iman dan islam yang sifatnya wajib,tetapi ajaran tasauf bersifat ulama tasauf sering menamakan ajaranya dengan istilah fadaiul aamal. Memang ajaran tasauf harus diakui bahwa tidak ada satupun ayat atau hadis yang memuat kata tasauf dan sufi, karena istilah ini baru timbul ketika ulama tasauf berusaha membukukan ajran itu. Uapaya ulama tasauf memperkenalkan ajranya lewat metode peribadatan dan istilah-istilah yang telah diperoleh dari pengalaman batinya, yang memang metode dan istlah itu tidak didapatkan ayatnya di dalam al qur,an dan hadis. Tetapi sebenarnya ciptaan ulama tasawuf tentang hal tersebut, di dasarkan pada al qur,an dan hadits dengan perkataan udhkuru atau fadhuru. Ulama tasawuf yang sering juga disebut ulama Al- Muhaqiqin membuat tatacara peribadatan unrtuk mencapai tujuan tasawuf berdasarkan konsepsi dan motivasi beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits, yang artinya sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang kami kembalikan ketmpat yang serendah-rendahnya neraka . Dalam ayat pertama diterangkan bahwa manusia diciptakan sebaik-baiknya. Bahwa manusia diciptakan sebaik-baik kejadian, namun karna perbuatan manusia itu sendiri, maka Allah mengembalikannyakepada tempat yang hina. Ajaran tasawuf termasuk ke dalam ajaran islam yang tercakup dalam sendi ihsan, yang berfungsi memperkuat sendi Aqidah Keimanan dan sendi Shari’ah. Maka sering kita jumpai pembagian tasawuf menjdai tiga macam, yaitu Tasawuf Aqidah yaitu lingkup pembicaraan tasawuf yang menekankan maslah-masalah metafisis hal-hal yang ghaib , yg unsure unsurnya adalah keimanan kepada tuhan, seperti adanya malaikat, Syurga dan neraka dan sebagainya. Tasawuf Ibadah yaitu tasawuf yang menekankan pembicaraan dalam masalah rahasia Ibadah Asraru Al Ibadah . disamping itu Hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Tingkatan orang-orang biasa Al-Awam sebagai tingkatan pertama. Tingkatan orang-orang yang istimewa Al-Khawas sebagai tiingkatan kedua. Tingkatan orang-orang yang Teristimewa atau yang luar biasa sebagai Khawas Al Khawas tingkatan yang ketiga. Kalau tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para Wali Al Aulia , sedangkan tingkatan ketiga dimaksudkan sebagai para nabi Al Anbiya’ Tasawuf Akhlaki yaitu tasawuf yang menenkankan pembahasan pada budi pekerti yang akan mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan dunia akhirat, sehingga di dalamnya dibahas beberapa masalah akhlak, antara lain Bertaubat At-Taubah, yaitu keinsafan seseorang dari perbuatan yang buruk, sehingga ia menyesali perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik. Bersyukur As-Shukru, yaitu berterimakasih kepada Allah dengan menggunakan segala nikmatnya kepada hal-hal yang dipertintahkannya. Bersabar Ash-Sabru, yaitu tahan terhadap kesulitan dan musibah yang menimpanya. Bertawakal At-Tawakkul, yaitu memasrahkan sesuatu kepada Allah SWT. Bersikap iklas Al-Ikhlas, yaitu membersihan perbuatan dari riya sifat yang menunjuk-nunjukan kepada orang lain, demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA A. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf Para ahli ilmu Tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada 3 bagian yaitu tasawuf falsafi, tasawuf akhlaki dan tasawuf amali. Ketiga tasawuf ini memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan pendekatan rasio atau akal pikiran. Sedangkan tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli,tahalli dabn tajalli. Sedangkan tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliayah atau wirid. Tasawuf pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti sholat, puasa, haji, dzikir, dan lainnya. Ibadah yang dilakukan dalam rangka tasawuf itu erat hubungannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution mengetakan bahwa ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam al-Qur’an dikaitkan dengan takwa dan takwa berarti melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi larangannya yaitu orang-orang yang berbuat baik dan jauh dari yang tidak baik. Inilah yang disebut denagn ajaran amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. B. HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF DALAM ISLAM Untuk mengetahui hubungan Akhlak dengan Tasawuf dalam islam, maka ada beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan keterangan; misalnya Ulama yang mengatakan bahwa akhlak itu merupakan pankal tolak tasawuf, sedangkan Tasawuf adalah batas akhir akhlak. Begitu juga halnya pernyataan Al-Kattaniy yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Gazali yang menyatakan hubungan yang sangat erat antara akhlak dengan Tasawuf yang dilukiskan dalam pernyataan yang berbunyi Artinya Tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atas mu dalam budi pekerti, maka berarti ia menyiapkan bekal atas dirimu dalam Tasawuf. Untuk memperkuat pemahaman tentang keseimbangan dunia dengan urusan akhirat yang harus diperhatikan oleh Islam, maka ada salah satu hadits yang menerangkannya اِعْمَلْ عَمَلَ امْرِئً يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَمُوْتَ أَبَدًا , وَاحْذَرْحَذْرَامْرِئٍ أَنْ يَمُوْتَ غَدًا الروي فى السنن عن عمرو [11] Artinya Kerjakanlah sesuatu yang sama denganamalan seseorang yang tidak akan mati selama-lamany, dan lakukanlah sesuatu yang sama dengan perbuatan seseorang yang akan mati besok. Perawi hadits ini terdapat dalam Kitab Sunnah, yang bersumber dari Amr. Ada dua macam pemahaman untuk yang terkandungan dalam hadits ini, yaitu Mengandung pemahaman untuk menyeimbangan urusan dunia dengan akhirat, yang harus dilakukan dengan volume waktu dan tenaga yang seimbang. Mengandung pemahaman tentang keharusan bersungguh-sungguh bila melakukan urusan dunia, dan berbuat dengan rajin bila mengerjakan urusan istirahat. C. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang cara-cara mengesakan tuhan, selain itu ilmu ini juga disebut sebagai ilmu Ushul al-din, selain itu ilmu ini disebut juga ilmu aqa’id atau keyakinan-keyakinan. Ilmu tauhid disebut juga ilmu kalam berarti ilmu yang membahas tentang kata-kata atau silat lidah dalam rangka mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tauhid dapat dilihat melalui analisi yaitu pertama dilihat dari segi objek pembahasannya, ilmu tauhid membahas masalah tuhan baik dari segi zat, sifat dan perbuatannya, ilmu tauhid akan mengarahkan manusia menjadi ikhlas dan keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia. Kedua dilihat dari segi fungsinya ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh terhadap subjek yang terdapat dalam rukun iman itu. Jika kita percaya allah bahwa allah memiliki sifat-sifat tuhan itu maka sebaiknya manusia meniru sifat tersebut dengan mengembangkan sikap kasih sayang dimuka bumi. Demikian juga jika seseorang beriman kepada malaikat maka hendaknya meniru sifat-sifat yang terdapat pada malaikat seperti jujur, tidak pernah durhaka,dan patuh terhadap perintah tuhan. Dengan cara demikian percaya kepada malaikat akan membawa kepada perbaikan akhlak yang mulia sebagai mana firman allah $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$ qãZtBuä þqè% ö/ä3¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$ äou‘$yfÏtø$ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$ !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ Artinya “malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai allah terhadap apa yang diperintahkannyakepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya”Qs Al-Tahrim{66}6” $¨B àáÏÿù=tƒ `ÏB Aöqs% žwÎ Ïm÷ƒy‰s9 ë=‹Ï%u‘ ӉŠÏGtã ÇÊÑÈ Artinya “Tiada suatu ucapannya yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirQs Qaaf{50}18” Selanjutnya beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Tuhan khususnya Al-Quran, maka secara akhlaki harus diikuti dengan upaya menjadikan Al-Quran sebagai wasit, hakim serta imam dalam kehidupan dan diikuti dengan mengamalkan segala perintah yang ada dalam Al-Quran dan menjauhi apa yang dilarangnya. Firman allah yang artinya ô‰s©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ !$ îouqó™é& ×puZ¡ym `yJÏj9 tb%x. qã_ötƒ ©!$ tPöqu‹ø9$ur tÅzFy$ t ©!$ ZŽÏVx. ÇËÊÈ Artinya “sesungguhnya telah ada pada diri rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu orang-orang yang mengharap rahmat allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut allah Qs Al-Ahzab{33}21. Ayat-ayat tersebut memberi petunjuk dan mengingatkan kepada manusia bahwa pada diri rasulullah sudah terdapat contoh akhlak yang mulia. Jika hal tersebut dinyatakan dalam Al-quran maka makudnya adalah agar diamalkan. Dengsn cara demikian beriman kepada para rasul akan menimbulkan akhlak yang mulia. Hal ini dapat diperkuat dengan cara meniru sifat-sifat yang wajib pada rasul yaitu sifat shidik, amanah, tabliqh dan fathanah. Jika semua itu ditiru oleh manusia yang mengimaninya, maka akan dapat menimbulkan akhlak yang mulia, dan disinilah letak hubungan Ilmu Akhlak dan Ilmu Tauhid. Rukun iman yang ke enam ternyata erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia. Dengan demikian, dalam rangka pegembangan Ilmu Akhlak, bahan-bahanya dapat digali dari ajaran tauhid atau keimanan tersebut. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu Akhlak dapat pula dilihat dari erat kaitan antara iman dan amal salih misalnya kit abaca ayat yang berbunyi Ÿxsù y7În/u‘ur Ÿw šcqãYÏB÷sム4ÓLym x8qßJÅj3ysム$yJŠÏù tyfx© óOßgoY÷t/ §NèO Ÿw r߉Ågs† þ’Îû öNÎhÅ¡àÿRr& %[`tym $£JÏiB MøŠŸÒs% qßJÏk=¡ç„ur $VJŠÎ=ó¡n ÇÏÎÈ Artinya “Maka demi Tuhan engkau, mereka belumlah dinamakan beriman, sebelum mereka meminta keputusan kepada engkau muhammad dalam perkara yang menjadi perselisihan diantara mereka, kemudian itu mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang telah engkau putuskan dan mereka menerima dengan senang hati. Qs Al-Nisa{4}65” $yJ¯RÎ tb%x. tAöqs% tûüÏZÏB÷sßJø9$ sŒÎ þqããߊ ’n<Î !$ ¾Ï&Î!qߙu‘ur u/ä3ósu‹Ï9 öNßgoY÷t/ br& qä9qàtƒ $uZ÷èÏJy™ $uZ÷èsÛr&ur 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd tbqßsÎ=øÿßJø9$ ÇÎÊÈ Artinya “ucapan orang yang beriman itu, apabila mereka dipanggil kepada allah dan rasulnya untuk diputuskan perkara diantara mereka, hanyalah mengatakan “kami dengar dan kami patuhi”, dan itulah orang yang beruntung. Qs Al-Nur{24}51. $yJ¯RÎ šcqãYÏB÷sßJø9$ tûïÏ%©!$ qãZtBuä !$$Î/ ¾Ï&Î!qߙu‘ur §NèO öNs9 qç/$s?ötƒ r߉yg»y_ur öNÎgÏ9ºuqøBr’Î/ óOÎgÅ¡àÿRr&ur ’Îû ȋÎ6y™ !$ 4 y7Í´¯»s9’ré& ãNèd šcqè%ω»¢Á9$ ÇÊÎÈ Artinya “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada allah dan rasulnya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya dijalan allah. Itulah orang yang benar keimananya. Qs Al-Hujurat,{49}15. Ayat-ayat diatas memberi petunjuk dengan jelas bahwa keimanan harus dimanifestasikan dalam perbuatan akhlak dalam bentuk kerelaan dalam menerima keputusan yang diberikan nabi terhadap perkara yang diperselisihkan diantara manusia, patuh dan tunduk terhadap keputusan allah dan rasulnya, bergetar hatinya jika mendengar ayat-ayat allah dibacakan, bertawakal, melaksanakan sholat yang khusyu, berinfak dijalan allah, menjauhi perbuatan yang tidak ada gunakan, menjaga fajrinya dan tidak ragu-ragu dalam berjuang dijalan allah. Disinilah letak hubungan antara keimanan dengan pembentukan akhak. Ilmu Tauhid tampil memberikan landasan terhadap Ilmu Akhlak dan Ilmu Akhlak t ampil memberikan penjabaran dan pengamalan dari Ilmu Tauhid. Tauhid tanpa akhlak yang mulia tidak akan ada artinya, dan akhlak yang mulia tanpa tauhid tidak akan kokoh. Selain itu Tauhid memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap arahan tersebut. Disinilah letak nya hubungan yang erat dan dekat antara tauhid dan akhlak. D. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa Ilmu jiwa mengarah pembahasannya pada aspek batin manusiadengan cara menginterprestasikan prilakunya yang tampak. Melalui bantuan informasi yang diberikan oleh Ilmu Jiwa atau potensi kejiwaan yang diberikan al-Quran, maka secara teoritis Ilmu Akhlak dapat dibangun dengan kokoh. Dalam diri manusia terdapat potensi rohaniah yang cendrung kepada kebaikan dan keburukan. Potensi rohaniah ini dikaji dalam Ilmu Jiwa. Untuk mengembangkan Ilmu Akhlak kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan oleh Ilmu Jiwa. Selain itu dalam Ilmu Jiwa juga terdapat perbedaan psikologis yang dialami seseorang pada setiap jenjang usianya. Misalnya pada usia balita cendrung emosional dan manja pada usia anak-anak cendrung meniru orang tuanya dan bersikap rekreatif. Gejala psikologis seperti ini akan memberikan informasi tentang perlunya menyampaikan ajaran akhlak yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Dalam kaitan ini dapat dirumuskan sejumlah metode dalam menanamkan akhlak yang mulia. Dengan demikian Ilmu Akhlak dapat memberikan masukan dalam rangka merumuskan tentang metode dan pendekatan dalam pembinaan akhlak. E. Hubungan Ilmu Jiwa dengan Ilmu Pendidikan Semua aspek pendidikan ditujukan pada tercapainya tujuan pendidikan yaitu banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak. Tujuan ilsafat ependidikan islam yaitu terbentuknya seorang hamba allah yang patuh dan tunduk melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sert memiliki sifat-sifat dan akhlak yang mulia. Rumusan ini sangat jelas menjelaskan bahwa Ilmu Akhlak erat kaitanya pendidikan Islam. BAB III PENUTUP kesimpulan Pada pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa hubungan Akhlak tasawuf sangat perlu kita pelajari, karena hal ini membahas tentang tujuan tasawuf yaitu sebagai berikut bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Lebih menetahui tentang Tasawuf, yang merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya. Keterkaitan ini kadang-kadang dilihat dari persamaan objek, persamaan sudut pandang, persamaan sumber dan lain sebagainya. Saran Dengan pengetahuan tentang tasawuf ini diharapkan agar kita senantiasa bertindak dan berprilaku yang seimbang sesuai dengan ajaran yang ada dalam agama islam supaya kita bisa selamat dunia akhirat dan memperoleh kebahagiaan yang sejati. Daftar Pustaka Abuddin nata, Akhlak tasawuf dan karakter mulia,jakartarajawali pers,2015. Mahjuddin, Akhlak Tasawuf.Jakarta kalam mulia,2009 Harun nasution. Falsafah dan mistisisme dalam islam, jakarta bulan bintang, 1995 Husnan Malik. Esensi Tauhid Dan Syirik Dalam Islam. Dosen Metafisika UNPAB Sumaryono,Etika dan Hukum Yogyakarta kanisius,2006 Akhlak tasawuf I.jakarta kalam mulia,2009 Barmawy Akhlak Solo Ramadhani,1990 Ihsan Sanusi, Akhlak tasawuf,batusangkarSTAIN Batusangkar pres,2012, Hamka,tasawuf modern,Jakartapustaka panjimas,1990 [1] Pengarang buku Materia Akhlak, terbitan solo,1978. [2] Abuddin nata, Akhlak tasawuf dan karakter mulia,jakartarajawali pers,2015. [3] Ihsan Sanusi, Akhlak tasawuf,batusangkarSTAIN Batusangkar pres,2012, [4] Hamka,tasawuf modern,Jakartapustaka panjimas,1990,h 12 [5] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf.Jakarta Radar jaya offset, 2009 h. 65-67 [6] Harun nasution. Falsafah dan mistisisme dalam islam, jakarta bulan bintang, 1995, [7] H. Husnan Malik SH. Esensi Tauhid Dan Syirik Dalam Islam. Dosen Metafisika UNPAB [8] Ibid [9] Sumaryono,Etika dan Hukum Yogyakarta kanisius,2006,h. 243 [10] Ibid [11] Mahjuddin. Akhlak tasawuf I.jakarta kalam mulia,2009
.

perbedaan akhlak dan tasawuf